Dilarang Ekspor, Ini Tumpukan Tambang Emas dan Tembaga di Gudang Newmont

Dilarang Ekspor, Ini Tumpukan Tambang Emas dan Tembaga di Gudang Newmont

- detikFinance
Kamis, 12 Jun 2014 14:27 WIB
Dilarang Ekspor, Ini Tumpukan Tambang Emas dan Tembaga di Gudang Newmont
Foto: Gudang Konsentrat Newmont (Wiji-detikFinance)
Sumbawa Barat - Akibat pelarangan ekspor tambang mentah oleh pemerintah awal Januari lalu, praktis PT Newmont Nusa Tenggara (NTT) ikut terkena dampaknya. Akibatnya puluhan ribu ton konsentrat milik Newmont menumpuk di gudang, hingga meluber melebihi kapasitas gudang.

"Jumlah konsentratnya 93.800 ton, kapasitas gudang hanya 90.000 ton," kata Manager, Procesing and Powerplant PT NTT Ilyas Yamin saat memberikan penjelasan kepada media di area pertambangan Batu Hijau PT NTT di Kecamatan Sekongkang, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Kamis (12/06/2014).

Sebelum ada aturan pelarangan ekspor tambang mentah, Ilyas mengatakan, negara tujuan utama ekspor konsentrat milik Newmont ke Jepang dan Korea. Newmont memperkirakan tahun ini produksi konsentrat mencapai 200.000-300.000 ton, sedangkan pencapaian produksi tahun 2013 lalu kurang lebih 250.000 ton.

"Biasanya kita jual dan ekspor salah satunya ke Korea Selatan dan Jepang. Setiap satu ton konsentrat mengandung tembaga 24,7%, emas 6,5 gram/ton, dan perak 43 gram/ton," imbuhnya.

Saat ini yang bisa dilakukan pihak Newmont adalah mengirimkan konsentrat untuk diolah ke salah satu smelter yaitu PT Smelting Gresik. Tahun 2014 ini, kontrak pembelian PT Smelting Gresik kepada Newmont sebesar 124.000 ton.

Pihaknya berharap ada kesepakatan dari perundingan antara pemerintah dan Newmont yang sampai saat ini masih terus dilakukan. Di samping dapat kembali melakukan ekspor, kegiatan produksi dan operasional bisa kembali dihidupkan pasca penutupan operasional perusahaan per 5 Juni 2014.

"Dengan adanya pasokan konsentrat di gudang kita bisa penuhi permintaan Smelting Gresik. Kita harapkan kita bisa dapat izin ekspor agar kita bisa kembali beroperasi. Sekarang karyawan yang bekerja hanya 20%. Karena dirumahkan situasi cukup sepi, kita hanya lakukan pemeliharaan sehingga bisnis-bisnis di sekitar tambang juga cukup sepi. Kerugian juga cukup besar," keluhnya.

(wij/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads