Sejak penghentian operasi tambang Newmont, Abdul mengaku usahanya ikut berhenti. Akhirnya, ia mau tidak mau harus melakukan PHK para karyawannya.
"Karyawan saya ada 150 orang sudah standby. Saya bingung jadinya," keluh Abdul saat ditemui di Desa Sekongkang Bawah, Kecamatan Sekongkang, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Jumat (13/06/2014).
Abdul mengatakan, PT Dita Usaha Madani adalah mitra kerja Newmont sebagai penyedia jasa transportasi. Menurut Abdul, ia memiliki 22 armada bus dan 11 mobil, serta 1 truk untuk operasional Newmont. Setiap bulan, setidaknya Abdul sudah mendapatkan pendapatan bersih sekitar Rp 2 juta hingga Rp 3 juta/kendaraan.
"Kontrak saya dengan Newmont 3 tahun. Semua armada sekarang dalam keadaan standby juga," imbuhnya.
Selain kehilangan pendapatan, Abdul juga dipusingkan dengan biaya kredit seluruh kendaraan, dan bunga pinjaman bank yang belum selesai. Bila dihitung, ia memperkirakan setiap bulan jumlah kredit semua kendaraannya mencapai lebih dari Rp 500 juta. Oleh karena itu, ia berharap masalah Newmont bisa segera diselesaikan dengan pemerintah.
"Gaji semua karyawan saya putus semua. Saya harap pihak bank juga mengerti dengan kondisi ini dan ada toleransi seperti cicilan dapat dikurangi karena Newmont begini. Kredit Rp 14-16juta/bus, Rp 9-11 juta/mobil. Pinjaman ada Bank Muamalat dan BCA. Harga bus Rp 700 juta/unit harga mobil kecil Rp 402 juta," katanya.
Seperti diketahui PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) mulai tanggal 5 Juni 2014 lalu resmi menghentikan kegiatan produksinya. Salah satu penyebabnya adalah ketentuan ekspor yang baru, penerapan bea keluar dan larangan ekspor yang diberlakukan pada Januari 2017 sangat berdampak pada kelayakan ekonomi operasi Batu Hijau dan tidak sesuai dengan Kontrak Karya.
Hasilnya ribuan tenaga kerja Newmont dirumahkan sementara sampai ada kejelasan nasib dan komunikasi antara pihak Newmont dengan pemerintah. Pihak Newmont menegaskan untuk meminimalkan biaya pengeluaran dan menjaga kemampuan serta kesiapan perusahaan untuk kembali beroperasi, sekitar 80% dari 4.000 karyawan di Batu Hijau akan ditempatkan dalam status standby dengan pemotongan gaji mulai 6 Juni 2014. Artinya ada sekitar 3.200 karyawan yang kena kebijakan ini.
(wij/dnl)










































