Penyelundupan Minyak Terbesar Dalam Sejarah RI Masih Misteri

Penyelundupan Minyak Terbesar Dalam Sejarah RI Masih Misteri

- detikFinance
Senin, 16 Jun 2014 07:49 WIB
Penyelundupan Minyak Terbesar Dalam Sejarah RI Masih Misteri
Jakarta - Dua pekan lalu Bea dan Cukai Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau menggagalkan usaha penyelundupan minyak mentah terbesar dalam sejarah Indonesia. Tanker bernama MT Jelita Bangsa membawa muatan 402 ribu barel minyak mentah.

Minyak ini merupakan milik Pertamina yang diambil dari sumur Chevron di Dumia. MT Jelita Bangsa yang disewa Pertamina harusnya membawa minyak tersebut ke Kilang Balongan, namun tanker ini menyelundupkannya ke kapal lain di perbatasan Malaysia.

Namun hingga saat ini motif dan modusnya masih misteri, meski perusahaan si pemilik kapal yang disewa Pertamina sudah jelas. Simak di sini perkembangan terakhirnya, Senin (16/6/2014).

Pertamina akan tuntut pemilik kapal

Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya mengatakan, MT Jelita Bangsa melakukan pelanggaran penyelundupan yang sangat jelas, yaitu mematikan GPS dan menyimpang dari jalur yang seharusnya. "Ini kriminal. Pertamina meminta agar ini diusut tuntas pelakunya. Diadili dan dihukum," tegas Hanung di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (13/6/2014).

Hanung mengatakan, Pertamina akan menuntut perusahaan pemilik tanker, yaitu PT Trada Maritim Tbk (TRAM), untuk memastikan minyak mentah ini diantar ke Balongan dengan jumlah utuh. Ini sudah diatur dalam kontrak sewa Pertamina dengan pemilik tanker yang disewa.

Pertamina akan tuntut pemilik kapal

Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya mengatakan, MT Jelita Bangsa melakukan pelanggaran penyelundupan yang sangat jelas, yaitu mematikan GPS dan menyimpang dari jalur yang seharusnya. "Ini kriminal. Pertamina meminta agar ini diusut tuntas pelakunya. Diadili dan dihukum," tegas Hanung di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (13/6/2014).

Hanung mengatakan, Pertamina akan menuntut perusahaan pemilik tanker, yaitu PT Trada Maritim Tbk (TRAM), untuk memastikan minyak mentah ini diantar ke Balongan dengan jumlah utuh. Ini sudah diatur dalam kontrak sewa Pertamina dengan pemilik tanker yang disewa.

800 ton minyak mentah diselundupkan

Dari informasi awal yang Pertamina dapatkan, ada 800 ton minyak mentah yang diselundupkan MT Jelita Bangsa, dengan 'dikencingi' ke kapal lain bernama MT Ocean Maju.

Soal minyak yang 'dikencingi' ini, Hanung mengungkapkan ada 2 kemungkinan dari mana minyak ini berasal. Pertama dari dari kargo minyak yang ada, atau ada minyak yang dititipkan seseorang ke kapten kapal untuk diselundupkan.

800 ton minyak mentah diselundupkan

Dari informasi awal yang Pertamina dapatkan, ada 800 ton minyak mentah yang diselundupkan MT Jelita Bangsa, dengan 'dikencingi' ke kapal lain bernama MT Ocean Maju.

Soal minyak yang 'dikencingi' ini, Hanung mengungkapkan ada 2 kemungkinan dari mana minyak ini berasal. Pertama dari dari kargo minyak yang ada, atau ada minyak yang dititipkan seseorang ke kapten kapal untuk diselundupkan.

Pemilik tanker masuk daftar hitam

PT Pertamina (Persero) menyatakan tak akan lagi menggunakan perusahaan pemilik tanker MT Jelita Bangsa, yang pekan lalu menyelundupkan minyak perseroan. MT Jelita Bangsa ini menurut data Bea dan Cukai adalah milik PT Trada Maritim Tbk (TRAM).

Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya mengatakan, saat ini MT Jelita Bangsa masih ditahan Bea Cukai Tanjung Balai Karimun bersama dengan kargo minyak Pertamina.

"Setelah kargo nanti dilepaskan, tanker ini akan kita putus kontraknya. Perusahaan ini kita blacklist (masuk daftar hitam)," kata Hanung di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (13/6/2014).

Pemilik tanker masuk daftar hitam

PT Pertamina (Persero) menyatakan tak akan lagi menggunakan perusahaan pemilik tanker MT Jelita Bangsa, yang pekan lalu menyelundupkan minyak perseroan. MT Jelita Bangsa ini menurut data Bea dan Cukai adalah milik PT Trada Maritim Tbk (TRAM).

Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya mengatakan, saat ini MT Jelita Bangsa masih ditahan Bea Cukai Tanjung Balai Karimun bersama dengan kargo minyak Pertamina.

"Setelah kargo nanti dilepaskan, tanker ini akan kita putus kontraknya. Perusahaan ini kita blacklist (masuk daftar hitam)," kata Hanung di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (13/6/2014).

Pertamina sudah kirim surat putus kontrak

Pertamina sudah mengirimkan surat kepada Trada Maritim untuk memutuskan kontrak setelah kargo minyaknya dilepaskan. Jadi ada pemutusan kontrak lebih awal dan perusahaannya masuk daftar hitam, atau tidak boleh lagi menjadi rekanan Pertamina.

Hanung sampai saat ini belum bisa memastikan apakah kargo minyak Pertamina di tanker tersebut masih tersimpan rapi. Dia menduga, kemungkinan ada titipan minyak dari darat untuk diselundupkan. Jadi bukan kargo minyak milik Pertamina yang diselundupkan.

Untuk mencegah usaha penyelundupan terjadi, Hanung mengatakan, Pertamina akan langsung memutuskan kontrak tanker yang dalam operasinya melenceng dari rute perjalanan yang ditetapkan dan mematikan GPS.

"Sampai ada kapal tanker menyimpang dari rute seharusnya atau dia mematikan GPS tracking-nya, ini kan sudah indikasi walaupun belum kita buktikan dia mencuri, ini akan kita putus kontrak langsung jadi ini sebagai efek jera. Dan untuk mencegah supaya terjadi gangguan distribusi karena kapal-kapal seperti ini, kita hentikan kontrak lebih awal. Pertamina sudah menambah kapal cadangan secukupnya baik untuk mengangkut minyak mentah atau pun BBM," tutur Hanung.

Pertamina sudah kirim surat putus kontrak

Pertamina sudah mengirimkan surat kepada Trada Maritim untuk memutuskan kontrak setelah kargo minyaknya dilepaskan. Jadi ada pemutusan kontrak lebih awal dan perusahaannya masuk daftar hitam, atau tidak boleh lagi menjadi rekanan Pertamina.

Hanung sampai saat ini belum bisa memastikan apakah kargo minyak Pertamina di tanker tersebut masih tersimpan rapi. Dia menduga, kemungkinan ada titipan minyak dari darat untuk diselundupkan. Jadi bukan kargo minyak milik Pertamina yang diselundupkan.

Untuk mencegah usaha penyelundupan terjadi, Hanung mengatakan, Pertamina akan langsung memutuskan kontrak tanker yang dalam operasinya melenceng dari rute perjalanan yang ditetapkan dan mematikan GPS.

"Sampai ada kapal tanker menyimpang dari rute seharusnya atau dia mematikan GPS tracking-nya, ini kan sudah indikasi walaupun belum kita buktikan dia mencuri, ini akan kita putus kontrak langsung jadi ini sebagai efek jera. Dan untuk mencegah supaya terjadi gangguan distribusi karena kapal-kapal seperti ini, kita hentikan kontrak lebih awal. Pertamina sudah menambah kapal cadangan secukupnya baik untuk mengangkut minyak mentah atau pun BBM," tutur Hanung.
Halaman 2 dari 10
(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads