Komitmen Newmont Bangun Smelter dan Tidak Jual 'Tanah Air'

Komitmen Newmont Bangun Smelter dan Tidak Jual 'Tanah Air'

- detikFinance
Senin, 16 Jun 2014 10:28 WIB
Komitmen Newmont Bangun Smelter dan Tidak Jual Tanah Air
Foto: Gudang Konsentrat Newmont (Wiji-detikFinance)
Sumbawa Barat - PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) telah memilih membangun pabrik pemurnian (smelter) bersama PT Freeport Indonesia, yang tertuang dalam Nota Kesepahaman. Alasannya, beberapa kajian menunjukkan dari sisi ekonomi, Newmont tidak layak untuk membangun smelter sendiri.

"Kami bukannya tidak mau tetapi secara kajian tidak bisa kita bangun smelter sendiri," kata Manager Procesing and Powerplant PT NTT
Ilyas Yamin saat media trip mengunjungi satu per satu area pertambangan Batu Hijau PT NTT, di Kecamatan Sekongkang, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, minggu lalu, seperti dikutip, Senin (16/06/2014).

Ada dua alasan utama mengapa Newmont tidak mampu membangun smelter sendiri dan harus menggandeng pihak lain. Alasan pertama, didasari laporan Lembaga Penelitian Institut Teknologi Bandung (ITB) yang mengatakan, setiap satu smelter setidaknya membutuhkan konsentrat hingga 1,2 juta ton/tahun. Sedangkan produksi konsentrat Newmont per tahun hanya 300.000-500.000 ton.

Alasan kedua, masalah keuangan (finansial). Sebagai gambaran, menurut catatan pihak Newmont, di tahun 2011 perusahaan ini meminjam modal dari beberapa sindikasi bank sebesar US$ 600 juta dan hingga kini belum terbayar.

"Karena cadangan di (tambang) Batu Hijau tidak cukup untuk dibangun satu smelter bisa bikin sendiri, kondisi finansial terbatas. Salah satu item kita bangun smelter dengan Freeport," cetusnya.

Sementara itu dengan dihasilkan konsentrat, pihak Newmont menolak anggapan pihaknya menjual tambang mentah, dan diekspor ke luar negeri. Specialist Media Relation PT NNT Ari Burhanuddin menegaskan, Newmont hanya menjual dan mengekspor produk tambang olahan dalam bentuk konsentrat dengan nilai 95%.

"Kami tidak jual tanah air, nilai konsentrat yang kami hasilkan sudah 95%. Kita tinggal menambah 5% nilai tambah," tegas Ari.

Ari menjelaskan, proses olah tambang Newmont dilakukan dengan proses yang cukup panjang. Batuan tambang yang didapat dari areal tambang Batu Hijau Newmont di Kecamatan Sekongkang dikirim menggunakan mesin conveyer, lalu diolah menjadi konsentrat di pabrik pengolahan konsentrat yang memerlukan waktu 6-7 jam.

Kandungan tembaga yang terdapat di setiap 1 ton batu tambang yaitu 0,3%. Lalu setelah melalui proses penggilingan kadar tembaga meningkat menjadi 23-27%. Sedangkan untuk emas kadar di setiap 1 ton batuan adalah sebesar 0,07 gram/ton hingga 0,1 gram/ton. Setelah dikonsentrasikan kadar konsentrat emas meningkat antara 5-10 gram/ton.

Pabrik pengolahan mampu mengolah 110.000-120.000 ton bahan baku berupa batu tambang per hari menjadi konsentrat dengan produksi 1.000-1.500 ton/hari. Untuk memisahkan emas dan tembaga yang terkandung di dalam konsentrat butuh satu proses yang diolah oleh smelter.

Di dalam pabrik pengolahan ini, Ari mengungkapkan setidaknya ada 8 mesin utama antara lain terdiri dari 2 mesin sagmill dan 4 mesin bowmill. Setiap hari pabrik ini memerlukan listrik 96 MW dan 13.000 meter kubik air per jamnya dengan keterlibatan tenaga kerja hingga mencapai 1.000 orang.

"Hanya 1.500 ton konsentrat dengan nilai 95% yang kita hasilkan. Sedangkan tanah dan air sisanya kita olah kembali dan sudah kita tempatkan di laut kita. Proses ini sudah kita lakukan sejak lama," jelasnya.

(wij/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads