Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Djoko Suyanto mengatakan, sampai saat ini sudah banyak pihak yang ditangkap karena penyelundupan minyak. Djoko menyanggah pernyataan Bea Cukai yang menyatakan, dalam 5 tahun terakhir belum ada pernah ada pengungkapan pihak yang harus bertanggung jawab terhadap penyelundupan minyak.
"Masa tidak ada? Bagaimana tidak terungkap, kan selama ini sudah banyak yang kita tangkapi," ujar Djoko di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (16/6/2014).
Djoko menyatakan, upaya penggagalan penyelundupan yang terjadi di Tanjung Balai Karimun adalah hasil kerjasama pihak Bea Cukai dengan TNI dan Polri.
"Itu kan bukan cuma Bea Cukai, tapi juga TNI dan Polri. Ini jadi kerjasama," pungkasnya.
Sebelumnya Dirjen Bea dan Cukai Angung Koesoewandono mengungkapkan, dalam 5 tahun belakangan upaya penjeratan pelaku penyelundupan di wilayah perairan hanya bisa meringkus sampai ke tingkat nakhoda, belum ada penelusuran yang berhasil mengungkap hingga level perusahaan.
Dua pekan lalu Bea dan Cukai Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau menggagalkan usaha penyelundupan minyak mentah terbesar dalam sejarah Indonesia. Tanker bernama MT Jelita Bangsa membawa muatan 402 ribu barel minyak mentah.
Minyak ini merupakan milik Pertamina yang diambil dari sumur Chevron di Dumia. MT Jelita Bangsa yang disewa Pertamina harusnya membawa minyak tersebut ke Kilang Balongan, namun tanker ini menyelundupkannya ke kapal lain di perbatasan Malaysia.
Namun hingga saat ini motif dan modusnya masih misteri, meski perusahaan si pemilik kapal yang disewa Pertamina sudah jelas.
(dnl/dnl)










































