Hal inilah yang menjadi tugas PT Pertamina (Persero). Pertamina memperoleh penugasan dari pemerintah untuk mendistribusikan premium hingga solar ke pulau terluar hingga daerah pegunungan.
"Pertamina wajib salurkan dengan segala resiko," kata SVP Fuel Marketing and Distribution Pertamina, Suhartoko saat acara Pertamina On Train Workshop di dalam perjalanan kereta wisata Jakarta-Yogyakarta, seperti dikuti Selasa (17/6/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada jalur kurang elit dan rumit. Ke Kupang baru ke Larantuka atau ke Maumere, atau Ende. Itu dimuat drum plastik kemudian diangkut ke pelabuhan. Diangkut kapal kayu. Menuju APMS. Kalau pas pasang bagus. Kalau nggak berhenti dipinggir laut. Drum dilepas, ke laut didorong ke darat. Baru dibawa ke APMS. Itu juga bisa terjadi kapal terbakar," sebutnya.
Pengiriman ke pulau-pulau juga kerap terhambat ombak besar. Contoh lainnya adalah pengiriman BBM ke pedalaman Kalimantan. Menyusuri Sungai Kapuas, pengiriman BBM menggunakan kapal sangat tergantung pasang surut sungai.
"Ke Sintang lewat Sungai Kapuas. Itu pasang surut 12 meter. Ketika alurnya sungai tinggal 15 cm. Di tengah-tenga ada tongkang sebagai floating storage baru dipompa ke mobil tangki. Itu didistribusikan ke wilayah," sebutnya.
Suhartoko juga menceritakan tentang penyaluran BBM ke pedalaman Papua. Pertamina harus menyewa pesawat terbang khusus membawa drum-drum BBM subsidi ke stasiun-stasiun ke kabupaten pedalaman namun harga jual ke lembaga penyalur seperti Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) serta Agen Premium dan Minyak Solar (APMS) sama dengan ketetapan pemerintah.
"Sekalipun di puncak Jayawijaya. Drum dibawa dibawa ke Kabupaten di Pegunungan Jayawijaya dengan biaya Rp 30.000 per liter. Ini menjadi tugas yang diemban Pertamina," tegasnya.
Bahkan penyaluran BBM ala Pertamina dinilai paling kompleks dan canggih di dunia versi McKinsey.
"Ini pola suplai distribusi BBM Pertamina, kata perusahaan survei McKinsey itu terumit, tercanggih dan terlengkap di dunia karena harus menyalurkan BBM hingga penjuru Indonesia hingga pulau terluar. Ya kalau mau belajar cara distribusi BBM ke Pertamina," paparnya.
Sementara itu SVP Shipping Pertamina Mulyono menjelaskan armada-armada kapal perseroan pun siaga 24 jam untuk mendistribuskan BBM. Bahkan ke daerah-daerah yang sulit disandari pun, kapal Pertamina masuk mendistribusikan BBM.
"Siang malam. Kita bekerja di kantor. Jam 5 pulang, setengah 8 masuk. Kita kerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 30 hari sebulan. Nggak ada berhenti. Jam 1-2 pagi. Saya telepon nahkoda. Nahkoda bilang, nggak bisa karena karena Pelabuhan nggak ada lampu. Saya bilang pakai lampu senter," jelasnya.
(feb/ang)











































