"Jadi penyelundupan minyak itu masih dalam tahap penyelidikan, dan penyelidikan itu nggak bisa cepat. Kita harus tanya satu-satu, mencari benang merahnya seperti apa. Sampai sekarang belum ada info perkembangan dari sana," tutur Dirjen Bea Cukai Agung Kuswandono di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (18/6/2014).
Agung mengatakan, sampai saat ini pendalaman kasus masih terus dilakukan. Terkait bantahan Pertamina yang mengatakan minyak yang dibawa kapal MT Jelita Bangsa itu bukan miliknya, Agung mengatakan hal itu harus dibuktikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memang dalam 5 tahun terakhir, tidak pernah terungkap siapa dalang penyelundupan minyak yang terjadi. Agung mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan kepolisian untuk membongkar akar masalahnya.
Agung yakin pihaknya akan bisa mengungkap dalang penyelundupan minyak. Bea Cukai, ujar Agung, ingin mengungkap langsung dalang penyelundupan minyak tersebut. Namun sampai saat ini belum bisa menuduh pihak-pihak yang terlibat.
Seperti diketahui, dua pekan lalu Bea dan Cukai Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau menggagalkan usaha penyelundupan minyak mentah terbesar dalam sejarah Indonesia. Tanker bernama MT Jelita Bangsa membawa muatan 402 ribu barel minyak mentah.
Minyak ini merupakan milik Pertamina yang diambil dari sumur Chevron di Dumia. MT Jelita Bangsa yang disewa Pertamina harusnya membawa minyak tersebut ke Kilang Balongan, namun tanker ini menyelundupkannya ke kapal lain di perbatasan Malaysia.
Namun hingga saat ini motif dan modusnya masih misteri, meski perusahaan si pemilik kapal yang disewa Pertamina sudah jelas.
(dnl/hen)











































