Chatib Basri Perkirakan Gejolak Harga Minyak Hanya Sementara

- detikFinance
Jumat, 20 Jun 2014 18:16 WIB
Jakarta - Harga minyak hari ini naik menembus level tertingginya dalam 9 bulan, akibat gejolak geopolitik yang terjadi di Irak. Kenaikan harga karena militan Sunni menyerang kilang minyak terbesar dan memperluas kekuasaannya.

Harga minyak dunia sangat besar pengaruhnya terhadap Indonesia. Sebab, sebagai negara importir minyak, pemerintah terpaksa harus menyiapkan anggaran lebih terutama untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM).

Namun, Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan kondisi tersebut bersifat sementara. Meskipun pemerintah tetap akan memantau segala risiko yang disebabkan oleh kenaikan harga minyak.

"Saya kira ini temporer. Jadi kita lihat saja, kita monitor terus," kata Chatib di Gedung Djuanda, Kemenkeu, Jakarta, Jumat (20/6/2014).

Tahun ini, pemerintah mengasumsikan harga minyak Indonesia (ICP) sebesar US$ 105 per barel. Chatib optimistis rata-rata ICP sepanjang 2014 akan berada pada kisaran itu. "Kita masih percaya rata-rata harga US$ 105 per barel," tegasnya.

Sebagai informasi, harga kontrak minyak jenis Brent untuk pengiriman Agustus sempat menyentuh US$ 114,8 per barel. Ini merupakan harga tertinggi sejak September 2013. Namun pada penutupan perdagangan, harganya turun tipis ke US$ 114,5 per barel.

Sementara minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juli harganya naik 40 sen menjadi US$ 106,37 per barel.

David Sumual, Ekonom BCA, mengatakan investor masih khawatir dengan perkembangan di Irak. Saat ini, Irak merupakan salah satu pemasok minyak utama dunia. Gejolak di negara tersebut dikhawatirkan menghambat pasokan minyak.

"Harga minyak jenis brent sudah menembus kisaran US$ 113-114 per barel. Ini menggambarkan kekhawatiran pasar," tutur David.

Menurut David, faktor ekstenal ini pula yang menyebabkan mata uang negara-negara berkembang melemah. Namun pelemahan rupiah memang lebih dalam dibandingkan negara-negara lain.

"Rupiah melemah lebih dalam karena faktor harga minyak tadi. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak sangat sensitif karena terkait subsidi BBM (bahan bakar minyak). Saya perkirakan subsidi BBM bisa bertambah Rp 40 triliun kalau rupiah seperti ini terus," jelas David.

(mkl/hds)