Presiden Baru Harus Punya Tim Penyuluh Energi Sebelum Naikkan Harga BBM

Presiden Baru Harus Punya Tim Penyuluh Energi Sebelum Naikkan Harga BBM

- detikFinance
Minggu, 22 Jun 2014 12:08 WIB
Presiden Baru Harus Punya Tim Penyuluh Energi Sebelum Naikkan Harga BBM
Jakarta -

Presiden yang baru akan dihadapkan besarnya subsidi BBM yang tahun ini mencapai Rp 400 triliun lebih, tentunya untuk menguranginya hanya dengan menaikkan harga BBM. Namun sebelum itu dilakukan presiden harus membentuk tim khusus penyuluh energi.

Ketua Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Fanshurullah Asa mengungkapkan, akan sangat sulit saat ini melepaskan diri dari impor BBM, jalan keluarnya dengan menaikkan harga BBM.

"Untuk menguranginya pemerintah harus menaikkan harga BBM subsidi, karena saat ini subsidi BBM kita sudah mencapai Rp 400 triliun, sangat membebani negara dan menghambat ekonomi kita," ucap Fanshurullah kepada detikFinance, Minggu (22/6/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengungkapkan, agar masyarakat menerima dan mengerti keputusan pemerintah menaikkan harga BBM subsidi bahkan harus menghapusnya suatu saat nanti, perlu adanya penyuluh energi yang ditempatkan di setiap desa-desa.

"Ya kita butuh penyuluh energi, seperti yang pernah dilakukan adanya penyuluh dibidang pertanian," ucapnya.

Fanshurullah mengatakan, fungsi penyuluh energi menerangkan bahwa Indonesia bukan negara kaya minyak, bagaimana hemat energi, dan bagaimana caranya memproduksi energi sendiri tanpa bergantung pada BBM selama ini seperti gas elpiji, premium atau solar.

"Penyuluh energi ini bisa mengajarkan warga desa untuk produksi energi sendiri, kita banyak keragaman energi yang sesungguhnya bisa dibuat sendiri dengan mudah," katanya.

Ia mencontohkan, para peternak sapi di desa bisa memanfaatkan limbah kotoran sapi menjadi biogas, sehingga tidak mengandalkan gas elpiji, para petani tebu, sorgum dan jagung, bisa mengolah limbah tebu dan jagung menjadi bioetanol sehingga tidak perlu lagi mengandalkan premium atau pertamax dari Pertamina, sepeda motor atau mesin pertaniannya bisa jalan dengan bioetanol.

"Di desa tidak ada listrik bisa beli genset dan bahan bakarnya dari bioetanol, kalau solar ada tanaman jarak, ada kemiri sunan, ada sawit yang bisa diolah jadi biosolar," ucapnya.

"Fungsi penyuluh energi inilah yang akan mengajarkan mereka cara mengoptimalkan limbah jadi energi, sehingga masyarakat di desa tidak tergantungan premium atau elpiji, ketahanan energi makin kuat," jelasnya.

Bagaimana cara mewujudkan hal tersebut? pria yang akrab disapa Ifan ini mengungkapkan, presiden yang baru bisa mengalokasikan dana untuk para penyuluh ini.

"Desa ada berapa di Indonesia? sekitar 70.000, bisa beri satu penyuluh gaji Rp 2 juta per bulan kan hanya sekitar Rp 140 miliar tapi efeknya luar biasa, ketahanan energi bangsa ini akan kuat, penyuluh energi ini bisa diambil bagi mereka lulusan S-1," tutupnya.

(rrd/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads