Pagi-pagi Dapat Kabar Tarif Listrik Naik, Pengusaha 'Jantungan'

Pagi-pagi Dapat Kabar Tarif Listrik Naik, Pengusaha 'Jantungan'

- detikFinance
Jumat, 27 Jun 2014 11:13 WIB
Pagi-pagi Dapat Kabar Tarif Listrik Naik, Pengusaha Jantungan
Jakarta - Direktorat Jenderal (Ditjen) Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menggelar coffee morning mengundang para pelaku usaha di kantornya.

Di depan kurang lebih 200 pengusaha yang hadir dalam acara itu, para narasumber menjelaskan perihal kenaikan listrik untuk golongan tertentu.

Selama acara, tak banyak komentar yang keluar dari para peserta yang didominasi kalangan usaha tersebut. Ketua Asosiasi Pengusaha Keramik Indonesia (ASAKI) Elisa Sinaga menyebutkan, kalangan usaha seperti terkejut mendengarkan paparan perihal kenaikan listrik itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya kira tadi yang datang bukannya tidak mau tanya. Tapi mereka jantungan mungkin. Mungkin seisi ruangan ini jantungan semua denger listrik naik sebesar itu dalam 4 bulan. Mimpi pemerintah," kata Elisa usai menghadiri acara yang dilakukan di Jl HR Rasuna Said, Jakarta, Jumat (27/6/2014).

Elisa menuturkan, para pengusaha menyayangkan keputusan yang diambil pemerintah terkait pencabutan subsidi listrik ini. Menurutnya, waktu pemberlakuan ini terlalu singkat.

"Tidak ada 1 negara di dunia yang menaikkan tarif listriknya sampai 40% dalam 4 bulan. Itu namanya mematikan," tegas dia.

Kenaikan tarif listrik ini, lanjut dia, maka palku usaha tanah air akan sulit bersaing dengan pelaku usaha dari negara lain pada pelaksanaan masyarakat ekonomi ASEAN mulai 2015 mendatang.

"Ya, memang enggak langsung (langsung mematikan usaha). Tapi ini dampaknya jangka panjang. Dampaknya ke daya saing nanti jelang masyarakat ekonomi asean 2015. Bagaimana kita mau bersaing dengan yang lain kalau kita terus tertekan begini. Yang ada nantinya Indonesia bisa kebanjiran barang dari luar, yang padahal kita bisa produksi sendiri, tapi harga dari luar lebih murah karena biaya produksinya lebih rendah. Bagaimana industri Indonesia mau bersaing," papar dia.

Sekarang ini, lanjut dia, pelaku usaha sudah tertekan dengan adanya depresasi rupiah yang telah berlangsung bebrapa tahun belakangan.

"Dari depresiasi saja, sampai sekarang kita sudah alami kenaikan beban kan sampai 20%. Buat kami pelaku industri itu, 20% itu besar. Kalau dengan kenaikan TDL buat industri yang rata-rata 13 - 20%, itu dampak langsungnya ke kita bisa ada kenaikan beban produksi samapi 6%. Itu yang langsung. Belum lagi nanti kita pasti kena juga dampak turunan dari kenaikan TDL. Dari yang itu beban-beban lain, harga bahan baku naik, lain-lain naik, kita juga pasti kena dampak dari situ," tegas dia.

Dirinya menegaskan, Pemerintah harusnya lebih bijak lagi dalam menetapkan sebuah aturan. "Saya pikir pemerintah ini seperti bermimpi. Seperti menteri ini bermimipi, pagi-pagi bangun terus lihat oh beban fiskal meningkat terus harus hapus subsidi, gak bisa gitu donk. Gak bisa tiba-tiba seenaknya aja sepertti itu. PLN enak saja bilang gak ada kenaikan income cuma perubahan komposisi pembayaran aja. Tapi perhatikan dampak makro ekonominya dong," tegas dia lagi.

Dirinya menyarakan, agar dalam pencabutan subsidi listrik ini dapat diterapkan dalam rentang waktu yang lebih panjang. Sehingga pelaku usaha punya waktu yang cukup untuk melakukan penyesuaian.

"Saran saya, ya kami mengerti memang harus ada kenaikan. Tapi jangan tiba-tiba dong. Kasih kami waktu untuk bernafas. Ya janganlah cuma 4 bulan. Paling tidak 5 tahun. Ini kan industri juga butuh penyesuaian. Pemerintah harusnya perhatikan itu," pungkas dia.

(dnl/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads