Dulu Jepang Berburu Gas, Tapi RI Pilih Jual Murah ke Tiongkok

Dulu Jepang Berburu Gas, Tapi RI Pilih Jual Murah ke Tiongkok

- detikFinance
Selasa, 01 Jul 2014 08:13 WIB
Dulu Jepang Berburu Gas, Tapi RI Pilih Jual Murah ke Tiongkok
Jakarta - Pemerintah telah berhasil merenegosiasi harga gas alam cair (LNG) ekspor Tangguh, Papua ke Fujian-Tiongkok dari US$ 3,35 per mmbtu menjadi US$ 8 per mmbtu. Namun bila melihat sejarahnya dulu, Jepang siap membeli mahal LNG dari Indonesia, tapi pemerintah justru menjual ke Tiongkok dengan harga yang murah.

Hal tersebut seperti diungkapkan pengamat perminyakan dari Center for Petroleum and Energy Economics Studies Kurtubi.

Menurut Kurtubi, melihat sejarahnya, pada 2002 penjualan gas ke Tiongkok menjadi permasalahan, karena pemerintah menjualnya dengan harga murah yakni hanya US$ 2,4 per mmbtu dan maksimal US$ 3,35 per mmbtu, dengan berdasarkan harga patokan minyak Jepang (Jepang Crude Cocktail/JCC) maksimal US$ 38 per barel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Padahal saat itu Jepang itu berburu gas, berapapun dia siap beli, tapi kita justru jualnya ke Fujian, tentu ini jadi pertanyaan, mengapa dijual murah, kenapa ke Fujian, siapa aktor di balik penjualan ini," ujar Kurtubi kepada detikFinance, Selasa (1/7/2014).

Kurtubi memberikan bukti, Jepang mau membeli gas yang jumlahnya sedikit yang ada di Sulawesi yakni Donggi Senoro. Bahkan jauh sebelumnya atau 15 tahun sebelum menjual gas murah ke Fujian, pemerintah sudah menjual LNG Badak, Kalimantan Timur ke Jepang.

"Harga jual gas ke Jepang itu tidak ada batas maksimal, mengikuti berapa harga minyak bumi, kalau minyaknya naik seperti saat ini US$ 100 per barel harga LNG Badak ke Jepang naik US$ 16 per mmbtu, tidak perlu repot-repot renegosiasi, gas ke Fujian ini mengapa kok dijual murah dengan mekanisme maksimal US$ 3,35 per mmbtu," ungkapnya.

Ia menambahkan, apalagi penunjukan operator LNG Tangguh yakni BP (British Petroleum) ini juga aneh, karena PT Pertamina (Persero) mampu mengelola Blok Tangguh.

"Buktinya apa? Pertamina sudah berhasil mengelola LNG Arun dan LNG Badak, semua fasilitas yang dibangun juga 100% bukan berasal dari APBN, tapi kok yang ditunjuk BP," ungkapnya lagi.

Kurtubi menambahkan, dirinya mengapresiasi keberhasilan pemerintah berhasil merenegosiasi kontrak harga jual LNG Tangguh ke Fujian dari US$ 3,35 per mmbtu menjadi US$ 8 per mmbtu, namun sebenarnya Indonesia masih rugi mengekspor gas ke Tiongkok.

"PLN saja membeli gas di dalam negeri US$ 9-10 per mmbtu, ini jual ke negara lain hanya US$ 8 per mmbtu, ini kan masih rugi kita, tapi namanya sudah kontrak jangka panjang 25 tahun sejak 2002, ya kita apresiasi lah keberhasilan ini daripada harganya tetap US$ 3,35 per mmbtu," tutupnya.

(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads