Di 2010, RI Ditolak Tiongkok Naikkan Harga Gas Tangguh

Di 2010, RI Ditolak Tiongkok Naikkan Harga Gas Tangguh

- detikFinance
Selasa, 01 Jul 2014 14:12 WIB
Di 2010, RI Ditolak Tiongkok Naikkan Harga Gas Tangguh
Jakarta - Pemerintah telah menjual gas alam cair (LNG) Tangguh ke Fujian, Tiongkok sejak 2002 dengan harga US$ 2,7 per mmbtu. Ternyata harga gas terus naik sehingga harga gas ekspor ke Fujian dinilai tidak adil karena terlalu murah.

Menteri ESDM Jero Wacik mengungkapkan, dengan adanya patokan harga minyak Japan crude cocktail (JCC) maksimal US$ 26 per barel membuat harga ekspor gas hanya US$ 2,7 per mmbtu.

Jero mengatakan, seiring naikknya harga minyak dunia, membuat harga gas juga terus naik, bahkan mencapai US$ 13-16 per mmbtu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pada 2006 kita meminta adanya renegosiasi kontrak harga gas ke Fujian, hasilnya harga patokan JCC dinaikkan dari US$ 26 per barel menjadi US$ 38 per barel, dengan rumusan atau formula harga tersebut harga gas Tangguh bisa naik jadi US$ 3,3 per mmbtu," ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, pemerintah terus dikritik mengekspor gas dengan harga yang murah, hal tersebut mendorong pemerintah kembali melakukan renegosiasi kontrak harga gas Fujian pada 2010.

"Namun pada 2010 kita tidak berhasil meneregosiasi kontrak, ya namanya kontrak kalau Tiongkoknya nggak mau kita mau apa, kuat mereka karena ada kontrak itu," ucap Jero.

Jero menambahkan, kemudian pada 2011 dirinya dilantik sebagai Menteri ESDM dengan salah satu target yang harus diselesaikan adalah kembali merenegosiasikan harga gas Tangguh ke Fujian.

"Di 2013 kami bentuk tim, dan baru 20 Juni 2014 berhasil merenegosiasi, hasilnya benar-benar di luar yang saya bayangkan, sangat bagus, dan kita patut bersyukur atas keberhasilan ini," tutupnya.

(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads