"Eksplorasi migas ini sangat penting. Tapi saya tidak melihat adanya perhatian khusus dalam visi-misi kedua capres kita untuk meningkatkan eksplorasi atau memberikan insentif eksplorasi kepada investor. Padahal ini sangat vital," ucap Roviky kepada detikFinance, Rabu (2/7/2014).
Dalam dokumen visi-misi baik pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa maupun Joko Widodo-Jusuf Kalla, kebanyakan menyebut soal pembangunan kilang minyak untuk menghasilkan bahan bakar minyak (BBM). Isu eksplorasi dan insentif untuk eksplorasi memang belum mendapat perhatian secara detil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Roviky menambahkan, untuk mendapatkan minyak saat ini makin sulit dan butuh waktu yang lama. "Mulai dari eksplorasi itu sampai ketemu minyak atau gas butuh waktu 10-12 tahun. Untuk mengambil minyak hingga dapat diproduksi butuh waktu 5-6 tahun lagi. Bayangkan, butuh waktu hingga 18 tahun untuk cari minyak sampai bisa dinikmati. Itu pun kalau ketemu," jelasnya.
Indonesia, lanjut Roviky, akhirnya tergantung pada minyak impor karena produksi dalam negeri semakin terbatas. Ini terlihat dari data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), di mana impor minyak mentah Indonesia pada Mei 2014 mencapai US$ 1,29 miliar atau sekitar Rp 13 triliun. Angka ini meningkat 21,43% dibandingkan bulan sebelumnya.
"Sekitar 35% kebutuhan energi Indonesia masih berasal dari BBM, ini berbahaya. Kalau harganya naik tinggi, goyang ekonomi kita. Sementara produksi minyak dalam negeri terus menurun dan impor BBM dan minyak mentah terus meningkat," paparnya.
Hingga saat ini, Roviky belum melihat program para calon pemimpin baru yang ingin mengembangkan eksplorasi migas. "Saya belum lihat keberpihakan kedua capres ini terhadap industri perminyakan kita. Ingat, 2016-2017 prediksi kami Indonesia akan defisit energi, mulai dari minyak, gas, sampai listrik. Kalau punya uang banyak tidak masalah karena bisa impor, kalau tidak ada bagaimana?" tegasnya.
(rrd/hds)











































