BPH Migas: Kita Butuh Presiden Tegas dan Berani Naikkan Harga BBM

BPH Migas: Kita Butuh Presiden Tegas dan Berani Naikkan Harga BBM

- detikFinance
Kamis, 03 Jul 2014 11:24 WIB
BPH Migas: Kita Butuh Presiden Tegas dan Berani Naikkan Harga BBM
Jakarta - Kenaikan harga BBM subsidi sudah harus dilakukan, karena dana pemerintah habis ratusan triliun untuk subsidi ini. Seharusnya subsidi BBM bisa dialihkan untuk infrastruktur yang lebih produktif.

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menyatakan akan mendukung presiden baru bila berani menaikkan harga BBM subsidi, guna mengurangi beban APBN.

Menurut Wakil Ketua Komite BPH Migas Fanshurullah Asa, presiden baru tak perlu takut menaikkan harga BBM subsidi, karena selama ini BBM subsidi dinikmati orang-orang mampu. Tahun lalu saja, kenaikan harga BBM subsidi tidak menimbulkan keresahan dan terbukti kondisi sosial aman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini terbukti tahun lalu, pemerintah naikkan harga BBM, terbuktikan aman-aman saja. Orang juga berhemat terbukti konsumsi BBM turun 2 juta kilo liter, inflasi tetap terjaga, rakyat juga biasa-biasa saja. Karena memang selama ini yang nikmati BBM subsidi itu ya orang ekonominya menengah ke atas. Rakyat kecil apalagi miskin tidak nikmati BBM subsidi, kalau pun ada jumlahnya kecil. Kami dukung pemerintah yang mau naikkan harga BBM subsidi karena lebih banyak manfaatnya daripada mudaratnya," jelas Fanshurullah kepada detikFinance, Kamis (3/7/2014).

Dia mengatakan, cara paling realistis untuk mengurangi subsidi BBM dengan cepat saat ini adalah menaikkan harga BBM subsidi.

"Cara yang paling realistis dan terbukti aman-aman saja yakni dengan menaikan harga BBM subsidi, paling instan dan mudah diberlakukan," ucap Fanshurullah.

Namun untuk dapat menaikkan harga BBM subsidi, memang diperlukan presiden yang tegas dan tidak takut dibenci rakyatnya. Selain menghemat anggaran, kenaikan harga BBM juga membuat masyarakat mau hemat.

"Menaikkan harga BBM menang sering dicap kebijakan yang tidak sayang rakyat, makanya kita butuh presiden yang tegas dan berani ambil keputusan itu," ujarnya.

(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads