"Jangan harap capres-capres ini bilang akan naikkan harga BBM subsidi nggak mungkin," kata Pengamat Ekonomi Faisal Basri, di Hotel Sahid Rabu malam (3/7/2014).
Faisal menyatakan, beban subsidi BBM yang terlalu besar saat ini telah mengacaukan segala sektor di Indonesia, mulai dari ekonomi sampai kesejahteraan rakyat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada kesempatan itu, Faisal bercerita ketika dia berdebat dengan tim sukses dari pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Menurut Faisal, pasangan tersebut tidak mengutamakan kebijakan kenaikan harga untuk mengurangi subsidi BBM.
"Pak Dradjad Wibowo ketika debat dengan saya bilang, Pak Prabowo tidak mengutamakan menaikkan harga BBM subsidi agar subsidi BBM berkurang. Ya mau pakai cara apa? Sampai ke surga pun yang paling efektif untuk mengatasi persoalan ini ya naikkan harga BBM subsidi," tutupnya.
Sebelumnya, tim sukses pasangan Prabowo-Hatta yaitu Sandiaga Uno mengatakan, Prabowo-Hatta berencana mengurangi 2/3 anggaran subsidi BBM dalam 3 tahun.
"Itu artinya Pak Prabowo-Hatta akan menaikkan harga BBM subsidi jika nanti dipilih menjadi presiden-wakil presiden," kata Sandiaga.
Ia menuturkan, kenaikan harga BBM subsidi tersebut tidak sekaligus, namun secara bertahap dalam 3 tahun.
"Tentu naiknya bertahap tidak sekaligus selama 3 tahun mengingat beban subsidi yang ditanggung negara ini sudah sangat besar dan sangat mendesak untuk dikurangi," ucapnya.
Sandiaga menambahkan, dalam 3 tahun tersebut, secara bertahap kenaikkan harga BBM akan mencapai 50% dari harga BBM saat ini Rp 6.500 per liter untuk harga premium atau Rp 5.500 per liter untuk BBM solar.
"Naiknya 50% bertahap selama 3 tahun dari harga BBM sekarang ini," tutupnya.
Sementara Jokowi, dulu pernah berujar akan menghapus subsidi BBM dalam waktu 4 tahun. Jokowi beralasan anggaran subsidi BBM sudah terlalu besar. Pada tahun 2014 anggarannya sudah mencapai Rp 246 triliun. Sementara yang menerima subsidi, bukanlah yang berhak dampaknya membuat guncangan ekonomi dan sosial.
Menurutnya anggaran sebesar itu, diarahkan kepada sektor-sektor yang produktif dan kalangan yang membutuhkan misalnya seperti petani dan nelayan.
(rrd/dnl)











































