Dua Capres Tak Singgung Soal Kenaikan Harga BBM di Debat Terakhir

Dua Capres Tak Singgung Soal Kenaikan Harga BBM di Debat Terakhir

- detikFinance
Minggu, 06 Jul 2014 11:08 WIB
Dua Capres Tak Singgung Soal Kenaikan Harga BBM di Debat Terakhir
Jakarta - Kedua pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden (Capres dan Cawapres) Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla (JK) tidak menyinggung soal kebijakan reformasi subsidi energi (BBM dan Listrik) secara gamblang dalam debat Capres dan Cawapres terakhir semalam. Bahkan isu mengurangi subsidi BBM dengan cara menaikkan harga BBM, tak keluar dari mulut para Capres-Cawapres.

Analis Mandiri Sekuritas Aldian Taloputra mengatakan, kedua kandidat tidak memberikan arah kebijakan subsidi BBM yang akan diambil seperti apa. Padahal, hal ini justru menjadi hal penting untuk menekan angka defisit anggaran pemerintah akibat kenaikan angka subsidi BBM.

β€œYang semalam kurang dibahas adalah kebijakan reformasi subsidi energi. Kedua kandidat tidak memberikan arah kebijakan subsidinya,” kata Aldian kepada detikFinance, Minggu (6/7/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aldian mengungkapkan, kedua kandidat hanya menjelaskan terkait perbaikan produksi minyak dan gas (migas) dan penggunaan energi terbarukan melalui konversi ke gas. Prabowo-Jokowi juga lebih fokus membahas soal adanya mafia di sektor energi dan pangan.

β€œKedua kandidat masing-masing mengusung pentingnya perbaikan produksi migas dan penggunaan energi terbarukan. Konversi energi kepada energi yang lebih murah juga dilakukan untuk menghemat energi,” terangnya.

Ia menambahkan yang perlu digarisbawahi dari masing-masing program yang disampaikan adalah bagaimana implementasi nyata di lapangan. Masyarakat, kata dia, menunggu hasil nyata dari janji-janji yang disampaikan kedua kandidat.

β€œSaya rasa yang perlu digaris bawahi adalah implementasi program menjadi sangat penting, karena masalah energi dan pangan ini sangat krusial dan Indonesia memiliki tantangan yang tidak ringan dilihat dari penurunan produksi energi dan masih tingginya ketergantungan terhadap impor bahan makan,” tandasnya.
Β 
Sebelumnya Pengamat Ekonomi Faisal Basri mengatakan dalam kampanye selama sebulan terakhir, tidak ada satupun pasangan calon presiden-wakil presiden yang tegas menyatakan bakal menaikkan harga BBM subsidi.

"Jangan harap capres-capres ini bilang akan naikkan harga BBM subsidi nggak mungkin," kata Pengamat Ekonomi Faisal Basri, di Hotel Sahid Rabu malam (3/7/2014).

Pada debat semalam, pasangan nomor urut 1, yaitu Cawapres Hatta Rajasa sempat ditanya soal kebijakan energi termasuk soal subsidi BBM. sementara penggunaan energi terbaharukan masih sangat kecil. Hatta berjanji akan meningkatkan produksi minyak mentah di Indonesia.

"Penataan ulang kepada sektor energi wajib dilakukan. Bagaimana meningkatkan cadangan minyak kita dengan mengembangkan sumur tua dengan teknologi tetapi untuk jangka pendek," kata Hatta

Selain itu, Hatta mendorong BUMN melakukan eksplorasi minyak, tidak hanya di dalam negeri tetapi di luar negeri. Sedangkan untuk jangka panjang, Hatta berjanji meningkatkan penggunaan energi baru terbarukan di Indonesia.

"Kami berkomitmen untuk meningkatkan penggunaan energi baru dan terbarukan di tahun 2020 di atas 20% dari saat ini hanya 6%," imbuhnya.

Namun, upaya efektif yang akan dilakukannya adalah dengan mengajak masyarakat Indonesia untuk berhemat menggunakan energi.

"Kita harus melakukan penghematan energi," cetusnya.

Sedangkan, calon Presiden nomor urut 2 Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan untuk mengurangi konsumsi BBM yang membuat subsidi mencapai ratusan triliun rupiah, Indonesia harus memanfaatkan berlimpahnya energi yang belum termanfaatkan maksimal, terutama dari gas bumi dan panas bumi sampai energi terbarukan.

"Untuk itu kita harus berani putuskan, BBM harus dialihkan ke gas, hal ini akan mengurangi beban dari penggunaan BBM," ucap Jokowi.

Tentunya untuk dapat mengalihkan konsumsi BBM ke gas, diperlukan infrastruktur seperti pipa gas, sehingga gas bisa digunakan untuk transportasi publik dan perumahan.

"Kita akan kerjakan pipanisasi gas dalam waktu 3 tahun dengan kecepatan tinggi, kita bangun di banyak kota besar di Indonesia" katanya.

(drk/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads