400.000 Hektar Hutan Produksi Disiapkan Jadi 'Lumbung' Energi

400.000 Hektar Hutan Produksi Disiapkan Jadi 'Lumbung' Energi

- detikFinance
Kamis, 24 Jul 2014 17:13 WIB
400.000 Hektar Hutan Produksi Disiapkan Jadi Lumbung Energi
Jakarta - Pemerintah berupaya mengurangi penggunaan energi tidak terbarukan (fosil fuel) dan mengembangkan energi terbarukan.

Kementerian Kehutanan sudah menyiapkan 10 juta hektar hutan produksi untuk menjadi hutan energi yang menghasilkan bahan baku bioenergi (biofuel). Untuk tahap awal ada 400.000 hektar yang potensial untuk ditanami tanaman yang menghasilkan bioenergi termasuk biofuel (bahan bakar nabati)

"Diharapkan hutan produksi tidak hanya memproduksi kayu, papan, pulp and paper saja tapi juga untuk energi dan pangan," ujar Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan Kementerian Kehutanan Bambang Hendroyono di Gedung Manggala Bhakti Jakarta, Kamis (24/7/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Bambang 400.000 hektar itu tersebar di seluruh provinsi Indonesia seperti di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Nusa Tenggara.

Saat ini luas hutan tanaman industri di Indonesia 10,3 juta hektar. Dari jumlah itu, ada 400.000 hektar disiapkan untuk hutan energi.

Hutan energi itu rencananya akan ditanami dengan 4 jenis tanaman yang berpotensi dijadikan bahan baku biofuel.

"Menurut rekomendasi tim Litbang dari Kemenhut dan ESDM ada 4 jenis tanaman yang mampu jadi bahan baku bioenergi yaitu tanaman Kaliandra, Nyamplung, Bintaro dan Kamelina," jelas Bambang.

Keempat tanaman itu direkomendasikan karena banyak tersebar di Indonesia dan cepat tumbuh sehingga diharapkan mampu dengan cepat menghasilkan bahan baku bioenergi.

Ia menargetkan waktu selama 5 tahun untuk merealisasikan hutan energi ini. "Kita targetkan 5 tahun ke depan untuk 400.000 hektar, jadi setiap tahunnya ada 8.000 hektar," ucap Bambang.

Hari ini Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Rida Mulya bersama-sama dengan Dirjen Bina Usaha Kehutanan Kementerian Kehutanan, Bambang Hendroyono mendatangani nota kesepahaman (MoU) tentang Program Pengembangan Bioenergi Berbasis Hutan Energi di Gedung Manggala Bhakti Jakarta.

"Ini merupakan milestone yang penting bagi kami Kementerian ESDM, kenapa? energi sekarang sudah menjadi basic needs yang sering terlupakan, kebetulan tergantungan kita terhadap fosil fuel masih tinggi 96%, kami ingin memutus itu," ujar Rida Mulya

Sementara menurut Bambang Hendroyono, penandatanganan MoU ini menjadi tanda komitmen bersama bahwa persoalan energi menjadi permasalahan yang harus diselesaikan bersama.

"Ini adalah awal untuk mewujudkan mimpi kita dalam menjadikan sumberdaya yang terabaikan bisa menjadi sangat bermanfaat bagi seluruh masyarakat," ujar Bambang Hendroyono.

Dalam MoU tersebut disebutkan bahwa Kementerian ESDM sebagai pihak pertama selaku perencana program sementara Kementerian Kehutanan sebagai pihak kedua selaku pelaksana program.

Ruang lingkup MoU ini mencakup sisi hulu yang meliputi pencadangan kawasan hutan produksi yang khusus sebagai sumber bahan baku bioenergi.

"Kalau di sisi hilir ini nanti bagaimana bahan baku bioenergi yang tersedia dari hutan energi tersebut bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan dalam negri," ujar Rida Mulyana.

Nota kesepakatan ini menjadi acuan kerja kedua Kementerian tersebut dalam upaya perencanaan dan pelaksanaan program Pengembangan Energi Baru Terbarukan Berbasis Hutan Tanaman Energi.

(hen/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads