Contohnya di SPBU Bungur, Senen, Jakarta Pusat, solar subsidi yang dijual Rp 12.600/liter ternyata tidak diminati konsumen.
"Sejak 1 Agustus dihentikan sampai sekarang tinggal sisa solar subsidi 9 ton (900 liter). Kita jual dengan harga non subsidi tetapi tidak laku," ungkap Supervisor SPBU 34.10.604, Jalan Raya Bungur, Senen, Jakarta Pusat, Asep Faisal kepada detikFinance, Senin (11/08/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelum diberlakukan larangan jual solar subsidi di SPBU Jakarta Pusat, ia mampu menjual solar subsidi 16 hingga 18 ton per 3 hari. Penjualan solar subsidi adalah yang tertinggi kedua setelah penjualan premium yang bisa mencapai 24 hingga 48 ton per 3 hari.
"Sekarang solar subsidi yang dijual dengan harga non subsidi tidak laku karena kualitas yang sama. Orang lebih milih Pertamina Dex," imbuhnya.
Faisal menjelaskan kualitas jenis solar subsidi dan non subsidi umumnya sama. Sedangkan jenis solar yang kualitasnya lebih bagus adalah Pertamina Dex.
"Disebut solar non subsidi hanya untuk harga keekonomian saja tetapi kualitas dan unsur oktan sama. Yang beda ya Pertamina Dex harganya Rp 150.000-160.000 per jerigen isinya 10 liter atau solar dalam kemasan dengan kualitas oktan lebih bagus," jelasnya.
(wij/ang)










































