Rapat dimulai sekitar pukul 08.00 WIB, berakhir dua jam setelahnya. Apa hasil pertemuan tersebut?
Menurut Dahlan, rapat membahas perkembangan dan kendala proyek energi yang dikerjakan oleh PLN, Pertamina, dan PGN. Proyek pertama adalah pembangunan sembilan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) alias geothermal. Proyek ini dikerjakan oleh Pertamina.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proyek kedua adalah pipa gas Arun ke Belawan. Proyek pipa gas ini ditargetkan rampung dalam waktu 2 bulan ke depan.
"Kami tinggal menunggu persetujuan Menteri ESDM untuk mengalirkan gas dari Exxon ke Medan untuk kepentingan PLN di Medan dan industri di Medan," jelasnya.
Persoalan energi lainnya yang dibahas adalah pemanfaatan fasilitas train yang ada di LNG Arun, Aceh. Sebanyak 4 dari 6 fasilitas train yang ada di LNG Arun selama ini kurang terpakai secara optimal. Ke depan train tersebut akan dimanfaatkan kembali.
"Di sana ada 6 train yang sudah nganggur sehingga kita ubah menjadi receiving. Artinya tidak usah membangun kapal seperti yang di Teluk Jakarta tetapi LNG terminal yang untuk ekspor sekarang difungsikan untuk impor. Ini pengerjaannya sudah 95% selesai," paparnya.
Dahlan juga menjelaskan perkembangan pasokan gas dari Gundi di Cepu menuju Tambak Lorok di Semarang. Selama ini fasilitas pipa sudah terbangun namun belum memperoleh pasokan.
Dahlan menjelaskan dalam waktu 2 bulan ke depan, pasokan gas bisa normal sehingga pembangkit listrik bisa di Semarang memperoleh energi gas menggantikan BBM. Gas dari Gundi juga akan diubah menjadi CNG yang dikapalkan untuk melistriki area kepulauan Karimun Jawa.
"Sebagian ditampung dalam bentuk CNG yang untuk pembangkit listrik juga. Tetapi khusus untuk ticker (pada jam 5 sore-10 malam) dan kepentingan listriknya besar sekali. Sebagian lagi, nanti mini CNG yang akan dikirim ke Karimun Jawa," jelasnya.
Proyek terakhir yang dibahas adalah perkembangan pembangunan jaringan pipa gas dari Gresik (Jawa Timur) ke Semarang (Jawa Tengah). Dahlan mendengarkan beberapa kendala yang dihadapi di dalam pembangunan pipa gas ini.
"Sekarang sudah tender dan sudah hampir selesai tendernya. Semarang ke Cirebon masih ada hambatan karena dulu dimenangkan Rekin dan Rekin saya minta mundur karena tidak punya kemampuan untuk bangun. Kemudian dibangun oleh PGN setelah diproses, tidak bisa seperti itu menurut aturan administrasi di BPH migas," terangnya.
Pada kesempatan tersebut Dahlan tidak membahas persoalan perbedaan harga pembelian solar Pertamina oleh PLN. Dia menegaskan tidak ingin ikut campur di dalam persoalan korporasi.
"Solar tidak dibahas dan saya tidak mau bahasnya karena itu urusan 2 orang pintar. Dirut Pertamina pintar sekali, Dirut PLN juga pintar sekali," ujarnya.
(feb/hds)











































