Direktur Konstruksi dan Energi Terbarukan PT PLN (Persero) Narsi Sebayang mengatakan, salah satu yang membuat Jawa terancama krisis listrik, adalah proyek PLTU 8, 9, dan 10 di Sumatera Selatan.
"Proyek pembangunan pembangkit tersebut terlambat dari yang ditargetkan dan kemungkinan besar tidak akan masuk pada 2016-2018," ujar Nasri ditemui di ruang kerjanya, Kantor PLN Pusat, Rabu (13/8/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu juga belum selesai terbangun, percuma kan pembangkitnya selesai terbangun tapi jaringan listriknya tidak ada," katanya.
Proyek HVDC tersebut bernilai sekitar US$ 2,13 miliar yang didanai oleh Japan International Cooperation Agency (JICA). Dari total nilai investasi tersebut, US$ 1,19 miliar sudah disetujui pemerintah dengan tenor pinjaman selama 10 tahun, dengan masa tenggang 10 tahun dengan bunga 0,3% per tahun.
Kabel HVDC tersebut nantinya akan menghubungkan Bangko Tengah, Sumatera Selatan, hingga Bogor.
Ada beberapa paket yang harus dikerjakan untuk merampungkan proyek HVDC transmisi Sumatera-Jawa, yakni:
- Paket pertama yaitu stasiun konverter/inverter di Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Bogor.
- Paket kedua saluran transmisi kabel bawah laut 500 kV DC sepanjang 40 kilometer dari Ketapang (Lampung)-Salira (Banten).
- Paket ketiga saluran transmisi udara 500 KV DC Muara Enim-Ketapang dan Ketapang-Salira.
- Paket keempat berupa saluran transmisi udara 500 kV AC dari stasiun konverter Muara Enim-PLTU Mulut Tambang dan stasiun inverter Bogor-sistem transmisi 500kV Jawa-Bali.
(rrd/dnl)











































