Jawa Dihantui Krisis Listrik 2016 Karena Proyek Ini Molor

Jawa Dihantui Krisis Listrik 2016 Karena Proyek Ini Molor

- detikFinance
Rabu, 13 Agu 2014 12:56 WIB
Jawa Dihantui Krisis Listrik 2016 Karena Proyek Ini Molor
Jakarta - Tiga proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Sumatera Selatan, yakni PLTU 8, 9, dan 10 dengan total 3.000 megawatt (MW) terlambat terbangun. Akibatnya pasokan listrik di Jawa terancam defisit mulai 2016.

Direktur Konstruksi dan Energi Terbarukan PT PLN (Persero) Narsi Sebayang mengatakan, salah satu yang membuat Jawa terancama krisis listrik, adalah proyek PLTU 8, 9, dan 10 di Sumatera Selatan.

"Proyek pembangunan pembangkit tersebut terlambat dari yang ditargetkan dan kemungkinan besar tidak akan masuk pada 2016-2018," ujar Nasri ditemui di ruang kerjanya, Kantor PLN Pusat, Rabu (13/8/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tidak hanya pembangkitnya saja, agar listrik yang diproduksi di PLTU yang ada di Sumsel tersebut bisa ditransfer ke Jawa, harus juga terbangun kabel transmisi bawah laut atau High Voltage Direct Current (HVDC), yang mengubungkan sistem kelistrikan Sumatera-Jawa.

"Itu juga belum selesai terbangun, percuma kan pembangkitnya selesai terbangun tapi jaringan listriknya tidak ada," katanya.

Proyek HVDC tersebut bernilai sekitar US$ 2,13 miliar yang didanai oleh Japan International Cooperation Agency (JICA). Dari total nilai investasi tersebut, US$ 1,19 miliar sudah disetujui pemerintah dengan tenor pinjaman selama 10 tahun, dengan masa tenggang 10 tahun dengan bunga 0,3% per tahun.

Kabel HVDC tersebut nantinya akan menghubungkan Bangko Tengah, Sumatera Selatan, hingga Bogor.

Ada beberapa paket yang harus dikerjakan untuk merampungkan proyek HVDC transmisi Sumatera-Jawa, yakni:

  • Paket pertama yaitu stasiun konverter/inverter di Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Bogor.
  • Paket kedua saluran transmisi kabel bawah laut 500 kV DC sepanjang 40 kilometer dari Ketapang (Lampung)-Salira (Banten).
  • Paket ketiga saluran transmisi udara 500 KV DC Muara Enim-Ketapang dan Ketapang-Salira.
  • Paket keempat berupa saluran transmisi udara 500 kV AC dari stasiun konverter Muara Enim-PLTU Mulut Tambang dan stasiun inverter Bogor-sistem transmisi 500kV Jawa-Bali.
"Kapasitas pembangkit Sumsel sendiri untuk PLTU Sumsel 8 berkapasitas 2 x 600 MW, PLTU 9 kapasitas 2 x 600 MW, dan PLTU 10 kapasitas 1 x 60 MW, jadi total 3.000 MW. Kalau ini tidak selesai 2016-2018, maka kita harus cari cara agar ada pembangkit lain yang dibangun, untuk memenuhi kebutuhan listrik pada 2016-2018, jika tidak ada Jawa pasti krisis listrik, dan itu berbahaya," tutupnya.

(rrd/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads