Harga BBM Subsidi Tak Naik Menuai Komentar, dari Jero Wacik Sampai Jokowi

Harga BBM Subsidi Tak Naik Menuai Komentar, dari Jero Wacik Sampai Jokowi

- detikFinance
Senin, 18 Agu 2014 07:38 WIB
Harga BBM Subsidi Tak Naik Menuai Komentar, dari Jero Wacik Sampai Jokowi
Jakarta - Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak masuk dalam Rancangan Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2015. Kebijakan tersebut hanya bisa dilakukan oleh pemerintahan baru melalui mekanisme APBN-Perubahan.

Dalam RAPBN 2015, subsidi bahan bakar minyak (BBM) direncanakan sebesar Rp 291,1 triliun. Meningkat 18,1% dibandingkan 2014 yang sebesar Rp 246,5 triliun.

Jika harga BBM subsidi tak naik, maka kemungkinan kuotanya akan membengkak dan membuat bolong APBN tahun depan. Hal ini langsung menuai komentar dari berbagai pihak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut ini komentarnya, seperti dirangkum detikFinance, Senin (18/8/2014).

Menteri Keuangan Chatib Basri

Menteri Keuangan Chatib Basri menyatakan pada posisinya, pembahasan RAPBN 2015 masih dilakukan oleh pemerintah sekarang. Sementara kenaikan harga merupakan kewenangan pemerintahan baru.

"Agak susah. Kalau pemerintahan yang baru tidak setuju bagaimana? Nanti saya disalahkan sudah buat kenaikan harga BBM. Lebih baik itu dibahas di APBN-P," paparnya usai upacara peringatan proklamasi kemerdekaan di komplek Kementerian Keuangan, Jakarta, Minggu (17/8/2014).

Chatib mengakui ada kemungkinan opsi kenaikan harga BBM dibahas bersama anggota DPR. Namun tetap tidak bisa diwakilkan oleh pemerintahan yang sekarang.

"Dimungkinkan saja membahas kenaikan harga BBM. Tapi masak saya kemudian bicara atas nama pemerintahan baru?" ujarnya.

Menteri ESDM Jero Wacik

"Itu perkiraan kita. Kalau mau tenang, jatah BBM bersubsdinya 48 juta kiloliter," kata Jero kala ditemui di Istana Negara, Jakarta, Minggu (17/8/2014).

RAPBN 2015 menyediakan kuota BBM bersubsidi sebesar 48 juta kiloliter. Meningkat dibandingkan tahun ini yang sebesar 46 juta kiloliter.

"Nanti harus ada langkah-langkah apa yang harus dilakukan. Sudah dibuat kelonggarannya agar pemerintahan baru punya kebebasan untuk mengatur, kita tidak atur semua sekarang. Harus dibuka ruang," papar Jero.

Meski subsidi BBM naik, subsidi listrik justru turun dari Rp 103,8 triliun menjadi Rp 72,4 triliun. Menurut Jero, hal ini tidak lepas dari kenaikan tarif listrik yang diberlakukan pemerintah tahun ini.

"Subsidi listrik turun sejak kita naikkan tarif. Memang rakyat kita secara psikologis kalau harga BBM atau listrik agar mahal, pribadi-pribadi itu akan menghemat," tuturnya.

Presiden Terpilih Joko Widodo

Joko Widodo (Jokowi), presiden terpilih 2014-2019, menilai subsidi yang direncanakan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2015 terlalu besar. Oleh karena itu, pelru efisiensi agar tercipta ruang fiskal yang lebih besar.

Hal tersebut dikemukakan Jokowi kala ditemui di komplek Istana Negara, Minggu (17/8/2014). "Subsidi terlalu besar, banyak tempat yang bisa diefisienkan," katanya.

Dalam RAPBN 2014, subsidi bahan bakar minyak direncanakan sebesar Rp 291,1 triliun. Meningkat 18,1% dibandingkan 2014 yang sebesar Rp 246,5 triliun.

Jokowi mencontohkan perlu ada pengalihan sumber energi dari BBM ke batu bara atau gas. "BBM diganti dengan batu bara atau gas. Itu bisa mengefisienkan Rp 60-70 triliun," tuturnya.

Subsidi BBM yang besar, lanjut Jokowi, menyebabkan ruang gerak pemerintah menjadi terbatas untuk menjalankan program-program yang lebih produktif. "Efisiensi itu yang harus dikerjakan sehingga ada ruang fiskal yang lebih besar, lebih luas," ujarnya.

Jokowi berharap nantinya anggaran untuk pembangunan bisa ditingkatkan. "Anggaran pembangunan sangat kecil. Diharapkan makin besar, bukan biaya-biaya rutin," tegasnya.

Tim Transisi Pemerintahan Baru

Jika nantinya resmi memimpin Indonesia selama lima tahun ke depan, pasangan presiden dan wakil presiden terpilih Joko Widodo-Jusuf Kalla tidak akan terjebak dalam kebijakan-kebijakan populis. Pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM) akan ditempuh, meski kebijakan ini sangat sensitif.

Hal tersebut diungkapkan oleh Hasto Kristiyanto, Deputi Tim Transisi Jokowi-JK, di kantor DPP PDI-P, Lenteng Agung, Jakarta, Minggu (17/8/2014).

"Ini menunjukkan jebakan politik populis. Bagaimana sejak 2008 hanya karena kekhawatiran untuk tidak populer, kemudian upaya-upaya fundamental untuk memperbaiki sistem distibusi, sistim produksi, dalam sektor perminyakan tidak dilakukan. Akibatnya APBN menjerat dirinya sendiri dengan beban subsidi yang besar," paparnya.

Jokowi-JK, lanjut Hasto, punya komitmen untuk menyehatkan APBN. Subsidi tetap ada, tetapi lebih menyasar mereka yang membutuhkan yaitu kelompok masyarakat miskin.

"Yang dilakukan Pak Jokowi akan berbeda. Arah kebijakannya adalah untuk membuat postur anggaran yang lebih sehat dengan mengurangi subsidi BBM dan memindahkan secara langsung kepada rakyat melalui pendekatan-pendekatan peningkatan produksi dalam skala prioritas," jelasnya.
Halaman 2 dari 5
(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads