"Kenapa harus dipindah, karena jalur pelayaran Cilamaya tepat memotong jalur pipa ONWJ yang berada di bawah laut yang sudah seperti akar serabut. Apalagi ada delapan jalur pipa berukuran 28 inci, sangat besar yang harus dipindah. Berbahaya jika ada kapal besar yang masuk," papar General Manager PHE ONWJ Jonly Sinulingga kepada detikFinance, Senin (18/8/2014).
Jonly menambahkan, pihaknya juga harus memindahkan beberapa anjungan minyak lepas pantai (offshore) yang nilai sangat besar jika Pelabuhan Cilamaya dibangun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak hanya itu, pemindahan anjungan minyak dan pipa migas mengharuskan operasi ONWJ mati total dalam waktu yang cukup lama. "Produksi minyak 43.000 barel per hari dan produksi gas bumi 177 juta kaki kubik per hari akan terhenti dalam waktu yang cukup lama," ujarnya.
Akibatnya, negara akan kehilangan cadangan minyak yang cukup besar. "Produksi minyak ONWJ sampai 2023 bisa mencapai 50.000 barel per hari, bahkan hingga 2037 produksi masih bisa 20.000 barel per hari. Hingga 2014 ini cadangan terbukti di ONWJ mencapai 80 juta barel, masih ada cadangan yang harus dibuktikan yakni P2 mencapai 80 juta barel lagi, P3 sebanyak 130 juta barel minyak lagi, dan cadangan kontinjensi sebanyak 600 juta barel lebih," ungkapnya.
Jika ditotal, nilai produksi ONWJ mencapai 900 juta barel lebih. Dengan harga minyak rata-rata US$ 100 per barel dan kurs rupiah terhadap dolar AS Rp 10.000, maka nilainya mencapai lebih dari Rp 900 triliun.
"Kita sudah beri bukti, 2010 bagian pemerintah dan bagian kami karena Pertamina adalah milik negara mencapai Rp 7,3 triliun ke negara, 2011 meningkat lagi menjadi Rp 12 triliun ke negara, 2012 mencapai Rp 11,8 triliun, 2013 mencapai Rp 13 triliun, dan pada tahun ini kami ditarget Rp 11,6 triliun. Sementara Pelabuhan Cilamaya belum memberikan bukti penerimaan yang besar bagi negara. Kalau Cilayama dibangun ini semua hilang, itu pasti," terangnya.
(rrd/hds)











































