Manurung menceritakan, dirinya sudah 6 tahun bekerja sebagai sopir angkot. Namun baru tahun ini ia memberanikan diri memiliki angkot sendiri melalui kredit dengan cicilan Rp 3 juta per bulan.
"Saya baru Maret lalu beralih pakai gas. Alasannya banyak saran dari teman-teman sopir angkot kalau pakai gas lebih hemat," ucap Manurung kala ditemui detikFinance saat mengisi BBG di SPBU Pertamina di Jalan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Selasa (19/8/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harganya hanya Rp 6 juta plus tabungnya. Lumayan masih mahal untuk ukuran sopir angkot seperti saya," ucap Manurung dengan logat Batak yang kental.
Pemasangan converter kit ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Pasalnya harus ada modifikasi pada angkot, mulai dari meninggikan per bagian belakang agar tabung gas tidak membentur aspal hingga mengganti ban belakang dengan ukuran yang lebih besar.
"Tapi semuanya terbayar. Biasanya saya isi bensin sehari dengan 6 kali putaran Mekarsari-Pasar Minggu habis Rp 210.000 dengan dua kali isi di SPBU, sekarang dengan pakai BBG hanya Rp 90.000-100.000 per hari. Dari situ sudah besar penghematannya," ucapnya.
Manurung merinci lagi, dengan selisih bahan bakar premium Rp 5.500 per liter dengan BBG Rp 3.100 setara premium per liter, ia tidak lagi dipusingkan dengan cicilan angkotnya yang Rp 3 juta per bulan.
"Dari hemat bahan bakar saja saya sudah bisa hemat Rp 3 juta per bulan. Hasil narik angkot bisa untuk kebutuhan keluarga," ungkapnya.
Namun ia mengakui, ada hal positif dan negatif dalam penggunaan gas pada angkotnya.
"Sebenarnya tarikan mesin tidak ada masalah, sama saja dengan pakai bensin. Tapi kalau pakai BBG mesin lebih cepat panas, sehingga biasanya tiap tiga minggu saya ganti oli, dengan pakai gas saya tiap dua kali seminggu ganti oli. Tapi secara keseluruhan jauh lebih hemat pakai BBG," tuturnya.
(rrd/hds)











































