'Kerja di BUMN Lebih Baik Mundur Jika Tak Kuat Mental'

'Kerja di BUMN Lebih Baik Mundur Jika Tak Kuat Mental'

- detikFinance
Selasa, 19 Agu 2014 10:55 WIB
Kerja di BUMN Lebih Baik Mundur Jika Tak Kuat Mental
Jakarta - Banyak pihak memahami langkah Karen Agustiawan yang mengundurkan diri dari kursi Direktur Utama PT Pertamina (Persero). Pengunduran diri Karen disebut-sebut karena tingginya tekanan dari internal dan luar perusahaan.

Salah satu yang menanggapi pengunduran diri Karen adalah Direktur Operasional PT Sarinah (Persero) Handriani Tjatur Setiowati. Sebagai wanita yang menjadi direksi BUMN, Handriani bisa memahami kondisi yang dialami Karen.

Menurutnya Pertamina merupakan perusahaan BUMN minyak dan gas satu-satunya di Indonesia. Tentunya hal ini menjadikan Pertamina menjadi sorotan di seluruh masyarakat Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mungkin itu kalau yang mengundurkan diri bukan Karen nggak seheboh ini. Karena Pertamina perusahaan BUMN satu-satunya yang bergerak di oil and gas, negara sangat tergantung pada Pertamina, sama halnya PLN, itu sangat kental dengan politik, kalau nggak kuat mental, apalagi kalau perempuan, perempuan kalau digerecokin dia risih, begitu diganggu dicaci-maki, capek, jadi ya lebih baik mengundurkan diri," kata Handriani saat ditemui di acara BUMN Marketers Club di Manggala Wanabakti, Kementerian Kehutanan, Jakarta, Selasa (19/8/2014).

Handriani mengungkapkan, menjadi direksi di sebuah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memang memiliki tekanan tinggi baik dari dalam maupun luar perusahaan. Apalagi, keberadaan BUMN menjadi sorotan di mata masyarakat.

"Tekanan yang pasti di BUMN banyak, orang banyak melihat namanya perusahaan milik negara, siapa sih yang nggak risih kalau banyak yang melototin, tiba-tiba kalau ada bisnis melenceng sedikit saja jadi sorotan, apalagi kalau rugi," jelasnya.

Ia menambahkan posisi direksi di sebuah perusahaan BUMN memang menjadi banyak incaran. Masyarakat menilai, menjadi petinggi BUMN adalah posisi yang bergengsi.

"Oleh banyak orang apalagi posisi CEO atau direksi banyak yang pengen karena prestige, tapi kita juga harus tahu ibaratnya kita kerja sekeras-kerasnya untuk negara, jadi kita kerja sosial, kita digaji buat negara, once gagal itu kartu mati," ujarnya.

Ia menegaskan apa yang diputuskan oleh Karen merupakan hak pribadinya. Meskipun masa jabatan Karen belum tuntas untuk periode kedua kalinya jadi orang nomor satu di Pertamina.

"Kalau kita bicara kenapa beliau mengundurkan diri, secara teori sudah habis masa jabatan, kalau pun harus lanjut itu jabatan optional, rasanya beliau mengajukan pengunduran diri itu hak beliau, itu hak pribadi masing-masing jadi harus profesional, yang penting komitmen sudah selesai," ujarnya.

(drk/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads