Salah satu yang menanggapi pengunduran diri Karen adalah Direktur Operasional PT Sarinah (Persero) Handriani Tjatur Setiowati. Sebagai wanita yang menjadi direksi BUMN, Handriani bisa memahami kondisi yang dialami Karen.
Menurutnya Pertamina merupakan perusahaan BUMN minyak dan gas satu-satunya di Indonesia. Tentunya hal ini menjadikan Pertamina menjadi sorotan di seluruh masyarakat Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Handriani mengungkapkan, menjadi direksi di sebuah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memang memiliki tekanan tinggi baik dari dalam maupun luar perusahaan. Apalagi, keberadaan BUMN menjadi sorotan di mata masyarakat.
"Tekanan yang pasti di BUMN banyak, orang banyak melihat namanya perusahaan milik negara, siapa sih yang nggak risih kalau banyak yang melototin, tiba-tiba kalau ada bisnis melenceng sedikit saja jadi sorotan, apalagi kalau rugi," jelasnya.
Ia menambahkan posisi direksi di sebuah perusahaan BUMN memang menjadi banyak incaran. Masyarakat menilai, menjadi petinggi BUMN adalah posisi yang bergengsi.
"Oleh banyak orang apalagi posisi CEO atau direksi banyak yang pengen karena prestige, tapi kita juga harus tahu ibaratnya kita kerja sekeras-kerasnya untuk negara, jadi kita kerja sosial, kita digaji buat negara, once gagal itu kartu mati," ujarnya.
Ia menegaskan apa yang diputuskan oleh Karen merupakan hak pribadinya. Meskipun masa jabatan Karen belum tuntas untuk periode kedua kalinya jadi orang nomor satu di Pertamina.
"Kalau kita bicara kenapa beliau mengundurkan diri, secara teori sudah habis masa jabatan, kalau pun harus lanjut itu jabatan optional, rasanya beliau mengajukan pengunduran diri itu hak beliau, itu hak pribadi masing-masing jadi harus profesional, yang penting komitmen sudah selesai," ujarnya.
(drk/hen)











































