"Jual gas kita dapat untung Rp 800/liter," ungkao Site Manager SPBG Petross PT Petross Gas, Jalan Perintis Kemerdekaan, Jakarta Pusat, Adin Nurhadi kepada detikFinance, Kamis (21/08/2014).
Adin mengakui jumlah keuntungan yang didapat pemilik SPBG jauh lebih besar dibandingkan pemilik Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang menjual bahan bakar minyak (BBM).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adin mengungkapkan besarnya jumlah keuntungan yang didapat sebanding dengan nilai investasi membangun SPBG. Bagi Adin membangun SPBG menghabiskan dana miliaran rupiah. Belum lagi harga lahan di Jakarta yang terbilang cukup mahal.
"Membangun SPBG investasi mahal, balik modalnya lama. Mendirikan SPBG lebih mahal dari SPBU. Semua peralatan SPBG lebih mahal. Contohnya Nozzle di SPBG Rp 25 juta/unit, kalau SPBU nozzle hanya Rp 5 juta/unit. Belum lagi beli mesin (engine) gas harganya Rp 4,5 miliar. Lalu belum termasuk kompresor, storage tabung, pipa itu sangat mahal," paparnya.
Adin mengakui SPBG yang dimilikinya tidak hanya melayani penjualan BBG untuk kendaraan pribadi tetapi juga untuk industri. Biasanya gas yang dibeli industri dari SPBG jauh lebih besar dengan harga yang jauh lebih mahal.
"Biasanya penjualan untuk industri malam, hindari macet. harga beda untuk industri yaitu Rp 5.600/meter kubik," jelasnya.
(wij/ang)











































