Stok BBM Subsidi Menipis Menuai Komentar, dari Jero Wacik Hingga JK

Stok BBM Subsidi Menipis Menuai Komentar, dari Jero Wacik Hingga JK

- detikFinance
Selasa, 26 Agu 2014 08:22 WIB
Stok BBM Subsidi Menipis Menuai Komentar, dari Jero Wacik Hingga JK
Jakarta - PT Pertamina (Persero) memangkas jatah penyaluran BBM subsidi tiap SPBU terutama wilayah Indonesia Barat untuk premium 5% dan solar 20%. Hal tersebut berdampak pada stok BBM subsidi cepat habis dan antrean panjang di SPBU.

Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir, langkah pemangkasan BBM subsidi (kitir) terpaksa dilakukan, jika tidak maka jatah BBM subsidi tidak akan cukup sampai Tanggal 30 Desember 2014.

"Kita terpaksa mengkitir (membatasi pasokan) BBM subsidi, ini jika tidak dikontrol pasokannya ke SPBU maka BBM subsidi tahun ini tidak cukup sampai 30 Desember," ungkap Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir dihubungi detikFinance, kemarin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejumlah SPBU dibeberapa wilayah sejak beberapa hari terakhir terjadi antrean panjang, warga mengalami panic buying atau berusaha secepat mungkin mendapatkan BBM subsidi sehingga terlihat seperti berebut.

Kondisi tersebut menjadi perhatian sejumlah pejabat di negeri ini, siapa saja:

Menteri ESDM Jero Wacik

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengatakan jatah BBM subsidi di daerah-daerah memang mulai dikurangi agar kuota BBM subsidi sebanyak 46 juta kilo liter dipastikan cukup hingga akhir Desember 2014.

"Untuk tambah nafas agar cukup sampai Desember. Saya minta BPH Migas, tolong lakukan pengendalian," ungkap Jero di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Senin (25/8/2014)

Ini merupakan langkah efektif dan efisien dari sekian banyak opsi yang telah dibahas. Jero optimistis kuota dapat terjaga dan anggaran BBM subsidi juga tidak melonjak dari alokasi APBN-P 2014.

"Makanya caranya adalah ketatkan BBM subsidi ini. Premium dan solar subsidi. Karena kalau hitungan normal, 46 juta kalau nggak ngapa-ngapain itu nggakk cukup sampai Desember," paparnya.

Jero ingin pengetatan konsumsi BBM subsidi tidak merugikan rakyat kelas menengah ke bawah, seperti nelayan, petani dan lainnya.

"Arahnya saya jangan nelayan miskin. Bus dan truk rakyat jangan kena. Tapi orang yang pakai mobil mewah harus kena," sebut Jero.

Kepala BPH Migas Andy Noorsaman Someng

"Makanya aneh, premium kan ketersediaanya selalu ada, kerjaan siapa nih?" kata Kepala BPH Migas Andy Noorsaman Someng ketika ditanya antrean panjang di SPBU kepada detikFinance, Senin (25/8/2014).

Andy mengungkapkan, pihaknya maupun Kementerian ESDM tidak mengetahui adanya pemangkasan jatah BBM subsidi per SPBU.

"Pemangkasan bukan dari surat edaran dari BPH Migas, harusnya Pertamina melaporkan hal ini ke BPH Migas terkait pemotongan jatah SPBU ini," ungkapnya.

Andy menegaskan, pemangkasan jatah BBM subsidi SPBU yang menyebabkan antrean panjang kendaraan di SPBU merupakan inisiatif PT Pertamina (Persero).

"Itu inisiatif dari Pertamina sendiri, Pertamina harusnya menjelaskan ke masyarakat dengan baik masalah strategi kitir (pemangkasan) ini, dan harusnya sebelum melakukan itu berkoordinasi dulu dengan BPH Migas dan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM," tutupnya.

Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya

"Yang terjadi di Pantura adalah panic buying karena ada isu BBM premium kosong. Mereka melakukan rush (beli berlebihan), yang biasanya beli 10 liter sekarang full tank. Ini lebih kepada panic buying karena info yang belum betul," katanya jelang Raker dengan Komisi VII di Gedung DPR-RI, Senin (25/8/2014)

Hanung mengatakan yang dilakukan pihaknya adalah memotong alokasi harian di setiap SPBU, misalnya BBM premium dipangkas 5%. Ia mengilustrasikan jika jatah volume premium 20.000 liter di sebuah SPBU, maka yang dipangkas hanya 1.000 liter per hari.

"Besoknya akan kita suplai lagi," katanya.

Ia menambahkan dari pemangkasan 1000 liter BBM subsidi, digantikan dengan BBM non subsidi seperti Pertamax, Pertadex, solar, atau premium non subsidi.

"Karena terjadi panic buying yang sebenarnya nggak perlu terjadi. Kalau premium sore akan habis besok akan ada lagi kok, silakan beli besok," seru Hanung.

Wakil Presiden Terpilih Jusuf Kalla

Belakangan ini beberapa SPBU di berbagai daerah terjadi antrean kendaraan untuk mengisi BBM subsidi. Antrean ini imbas dari kepanikan warga sebagai dampak dari pemangkasan kuota harian BBM subsidi untuk SPBU.

"Kelangkaan BBM itu risiko akibat terlalu besar subsidi kemudian orang yang menghamburkan dan boros," ujar JK di kediamannya, Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan, Senin (25/8/2014).

Menurut JK, anggaran subsidi BBM terbatas sehingga dibutuhkan tindakan yang drastis. "Perlu dilakukan pemindahan subsidi," JK.

JK mewacanakan menaikkan harga BBM subsidi agar merangsang dengan cepat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selain itu, jumlah penghematan negara atas kenaikan harga BBM dapat segera dialihkan ke pos-pos produktif seperti pertanian, pembangunan, kesehatan, dan pendidikan.

"Dengan begitu juga konsumsi atas penggunaan BBM juga turun," kata JK.

Dengan kenaikan harga BBM maka pemerintah melakukan penghematan anggaran sebesar 20%-25%.

"Pemerintah harus menaikkan BBM dalam waktu singkat agar tidak lagi semua anggaran pembangunan habis dipotong demi subsidi," tambahnya.

Salah satu tujuan pemerintahan Jokowi JK adalah dengan menaikkan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 7%. JK mengatakan jika Indonesia mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi 7% dalam sepuluh tahun maka income perkapita masyarakat Indonesia akan meningkat.

"Pertumbuhan ekonomi Malaysia 6% sekarang, kalau kita bisa 7% dalam sepuluh tahun maka kita bisa lewati Malaysia," ucapnya.

Sebagai wakil presiden terpilih, dirinya harus bisa mengambil kebijakan yang tidak populer untuk kemajuan bangsa.
Halaman 2 dari 5
(rrd/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads