Tapi melihat volume BBM yang tidak akan cukup sampai akhir tahun, pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) seharusnya memilih opsi untuk menaikkan harga. Karena terbukti mampu otomatis mengurangi konsumsi BBM.
"Kalau harga BBM naik, itu otomatis bisa langsung mengurangi konsumsi BBM," ujar anggota Badan Anggaran (Banggar) Satya W Yudha di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Rabu (27/8/2014)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi akan berkuranglah orang beli BBM," ungkapnya.
Β
Kemudian disparitas harga BBM subsidi dengan non subsidi akan semakin sempit. Sehingga menghindari aksi spekulan dan penimbun BBM. Menurut Satya hal itu sangat besar dampaknya terhadap konsumsi BBM.
"Kalau tidak ada disparitas harga tak ada spekulan dan penimbun," sebut anggota fraksi Golkar tersebut.
Terbukti pada tahun 2013 lalu, saat pemerintah menaikkan harga premium menjadi Rp 6.500 per liter dan solar Rp 5.500 per liter. Konsumsi BBM subsidi dari 50 juta kl menjadi 48 juta kl.
(mkl/ang)











































