"Sadarkah kita? Produksi minyak hanya 800.000 barel per hari, sementara kebutuhannya 1,5 juta barel per hari, artinya harus impor 700.000 barel per hari dengan beli pakai dolar yang diangka Rp 11.500 per dolar, disubsidi Rp 5.000-6.000 per liter, beli minyak dan memberi subsidinya pakai utang luar negeri," ungkap Senior Ekonom Bank Standard Chartered Fauzi Ichsan, kepada detikFinance, Jumat (29/8/2014).
"Ingat kita ini bukan Arab Saudi bahkan Venezuela yang produksi minyaknya banyak, cadangannya sangat banyak, kebutuhannya sedikit, rakyatnya juga sedikit, kita ini Indonesia yang produksi minyaknya sedikit, kebutuhannya banyak, rakyatnya banyak sekali," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"80% dinikmati orang mampu dan kaya, buat apa diberi subsidi," katanya.
Ia menambahkan, semakin ditunda kenaikkan harga BBM subsidi maka uang negara hanya akan dihabiskan untuk subsidi BBM. Seperti diketahui pemerintah menganggarkan subsidi BBM pada 2015 mencapai Rp 291 triliun.
"Kalau dibiarkan 3-4 tahun lagi uang negara hanya untuk bayar subsidi BBM, bayar gaji PNS dan bayar utang, karena untuk beri subsidi BBM uang darimana lagi selain dari utang," tutupnya.
(rrd/hen)











































