Bagi nelayan jika harga BBM subsidi dinaikkan maka hidup mereka akan tambah susah.
"Saya sangat keberatan, jujur saya tidak sanggup jika harga BBM dinaikkan," kata Sono salah satu nelayan di Sentra Nelayan Cilincing, Jakarta Utara kepada detikFinance, Senin (1/9/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tangkapan ikan sudah lama mulai berkurang cuaca sedang tidak bagus. Kadang tangkapan kita hanya 2 kwintal per hari sedangkan dulu paling besar tangkapan ikan kita bisa capai 1 ton per hari," imbuhnya.
Bahkan Sono yang mempunyai 3 orang anak ini harus meminjam uang untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap harinya. Keuntungan pendapatan bersih dari hidupnya menjadi nelayan hanya Rp 200.000 per 10 hari.
Sono punya harapan besar kepada Presiden Terpilih Joko Widodo atau Jokowi. Ia berharap Jokowi dapat membantu hidup para nelayan termasuk memperbaiki kapal nelayan yang sudah banyak yang rusak. Untuk memperbaiki kapal yang rusak setidaknya dibutuhkan uang Rp 8 juta per kapal.
Kemudian tidak hanya itu, bantuan permodalan bagi nelayan dari pemerintah pusat maupun perbankan nasional hingga kini belum ada. Padahal Sono mengakui sering banyak acara yang diselenggarakan pemerintah pusat dengan membagikan bantuan permodalan namun tidak sampai ke tangan nelayan.
"Kalau BBM naik ya kasihan hidup nelayan kalau bisa harga BBM subsidi ini diturunin. Kapal saya pada bolong, mesin juga hampir rusak, jadi yang bolong-bolong ini saya tambal saja. Saya berharap Pak Jokowi melihat hidup kami," tutup Sono sambil meneteskan air mata.
(wij/hen)











































