Dalam APBN-Perubahan 2014, subsidi BBM dianggarkan Rp 246,5 triliun dan kemungkinan akan lebih dari itu. Sementara tahun depan, subsidi BBM direncanakan Rp 291,1 triliun.
Anggaran subsidi BBM lebih besar ketimbang defisit anggaran. Tahun ini, defisit anggaran direncanakan Rp 241,5 triliun, sedangkan tahun depan Rp 257,6 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak hanya dari sisi APBN, lanjut Faisal, subsidi BBM juga membebani neraca perdagangan. Harga BBM yang murah karena disubsidi menyebabkan konsumsinya naik terus, sementara produksi minyak dalam negeri semakin menurun.
"Cadangan minyak kita terus turun. Artinya yang kita keruk lebih banyak daripada yang kita dapatkan sumur barunya. Produksi 800 ribu barel per hari, turun. Selisih 741 ribu barel ditutup dengan impor, jadi impor hampir sama dengan produksi," papar Faisal.
Dia menambahkan, pemerintah perlu mengambil kebijakan tegas untuk mengatasi situasi tersebut.
"Subsidi membuat APBN defisit. Kita harus menata diri kita agar tidak terlalu terombang ambing dengan kondisi ini," tandasnya.
(drk/hds)











































