Akibat 'hak istimewa' itu, Petronas mampu berkontribusi besar terhadap negara. Setidaknya 40% anggaran pemerintah Malaysia disokong oleh Petronas.
"Petronas menyumbang 40% dari APBN Malaysia. Padahal mereka nggak punya yang kita miliki," kata Mantan Menteri BUMN pertama, Tanri Abeng, pada acara diskusi migas di Hotel Sahid, Jakarta, Senin (8/9/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tanri juga menyinggung besarnya laba bersih Petronas. Di 2013, laba Petronas berkisar pada angka US$ 20 miliar (Rp 200 triliun), sedangkan laba dari 138 BUMN Indonesia berada di kisaran US$ 10 miliar (atau Rp 100 triliun).
"Jadi, 138 BUMN kita termasuk Pertamina, tidak sampai menghasilkan US$ 10 miliar. Berarti 138 BUMN termasuk Pertamina, hanya separuh dari keuntungan 1 perusahaan di Malaysia," jelasnya.
Untuk membesarkan Pertamina, tidak bisa tanpa campur tangan pemerintah hingga parlemen di Senayan. Dengan adanya kebijakan yang baik, maka BUMN bisa tumbuh besar sehingga lahir Petronas-Petronas asli bumi pertiwi.
"Saya kira yang harus dibenahi adalah soal makronya. Makro ini adalah kebijakan. Masalah kebijakan tidak bersahabat dengan negara. Ada teori yang saya sepakati. Kebijakan yang bodoh adalah lebih jelek dari korupsi. Tolong dicatat yang kita perbaiki adalah makro," jelasnya.
Saat kebijakan berpihak kepada pro industri dalam negeri, perusahaan sekelas Pertamina bisa berkontribusi besar terhadap Indonesia.
"Baru masuk ke mikro. Di situ ada proses bisnis untuk tingkatkan nilai tambah. Itu Petronas di mikro. Antara makro dan mikro harus sinkron. Sinkronkan ini perlu keinginan elit," katanya.
(feb/dnl)











































