Wakil Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), Susilo Siswoutomo menilai, penyelundup bisa mengambil untung dari selisih antara harga keekonomian minyak dunia dengan harga jual BBM subsidi di Indonesia Rp 5.000 hingga Rp 7.000 per liter.
Selisih harga tersebut bahkan masih lebih besar dari biaya pelicin untuk membayar oknum birokrat, atau pejabat pengawas agar penyelundupan ini berjalan lancar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Susilo mengungkapkan, penyelundupan BBM terbesar adalah jenis solar. "Lokasi yang rawan penyelundupan seperti di daerah tambang seperti di Kaltim, Kalbar, Sulteng, Riau, dan Sumsel," kata dia.
Ia mengatakan, penyelundupan ini sebenarnya bisa diatasi salah satunya dengan pemasangan Radio-frequency identification (RFID) di kendaraan-kendaraan yang berada di lokasi tersebut.
"Jadi tidak efektif kalau pasang RFID di Jawa karena yang pakai solar kebanyakan kendaraan di industri tambang. Jadi kita suruh fokus pemasangan RFID di sana (sekitar lokasi tambang)," tegasnya.
(dnl/dnl)











































