Juniman, Kepala Ekonom BII, menyebutkan pasar sudah lama menunggu pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi. "Memang ini lebih cepat lebih baik," ujarnya kepada detikFinance, Jumat (19/9/2014).
Menurut Juniman, selama ini pergerakan pasar masih tersandera masalah BBM bersubsidi. "Pasar sekarang tersandera fuel price. Jadi semakin cepat ada kepastian tentu lebih baik," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Aksi jual akan terjadi di market karena inflasi menyebabkan penurunan daya beli sehingga mempengaruhi kinerja emiten. Yield obligasi juga akan naik, kemudian orang akan banyak memegang dolar sehingga rupiah melemah. Namun ini sepertinya hanya akan terjadi dalam 1-3 bulan, sebelum market mencapai keseimbangan baru," jelasnya.
Dalam jangka panjang, tambah Juniman, kenaikan harga BBM akan berdampak positif bagi perekonomian secara keseluruhan. "Ekonomi kita akan lebih sehat. Subsidi BBM ini bom waktu, jangan terlalu lama disimpan," tegasnya.
Sebelumnya, Luhut Binsar Pandjaitan, Penasihat Tim Transisi Jokowi-JK, menyebutkan bahwa kenaikan harga BBM bersubsidi akan dilakukan pada November 2014. Besaran kenaikannya adalah Rp 3.000 per liter.
"Kami telah berdiskusi dengan tim dari presiden terpilih dan kami akan menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar Rp 3.000 per liter pada November. Dengan begitu, akan ada alokasi yang lebih besar untuk infrastruktur," ungkap Luhut seperti dikutip Reuters, Kamis (18/9/2014).
(hds/dnl)











































