"Kalau pemerintah menaikan harga BBM subsidi Rp 3.000 per liter pada 1 November 2014, negara akan hemat Rp 30,7 triliun pada 2014," kata Mirza dalam diskusi di kantor GP Ansor, Jakarta, Jumat (19/9/2014).
Mirza menyebut, tanpa kenaikan harga subsidi BBM akan mencapai Rp 267,8 triliun atau melampaui anggaran dalam APBN-Perubahan 2014 yang sebesar Rp 246,5 triliun. Kuota atau jatah BBM bersubsidi diperkirakan sampai 47,4 kilo liter, juga melampaui asumsi APBN-P 2014 yaitu 46 juta kilo liter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mirza menambahkan, kenaikan harga BBM memang menimbulkan dampak inflasi. Dengan kenaikan BBM, inflasi tahun ini diperkirakan bisa mencapai 9%. Sementara tanpa kebijakan tersebut, inflasi diperkirakan 5,32%.
Namun, demikian Mirza, dampak inflasi seperti ini akan jauh lebih baik ketimbang pemerintah terus menunda-nunda kenaikan harga BBM.
"Inflasi 2014 bisa menjadi 9%, tapi satu kali thok. Kenaikan harga BBM sekali, kemudian inflasi tinggi sedikit, lalu bisa turun lagi. Ke depan, kondisinya akan lebih baik lagi. Inflasi bisa lebih terkendali dengan model subsidinya yang terkendali," paparnya.
(hds/hds)











































