Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Bambang Brodjonegoro mengatakan besarnya anggaran tersebut masih berisiko terhadap fiskal. Alasannya karena tanpa kebijakan kenaikan harga BBM maka pemerintahan baru terpaksa harus menambah utang karena defisit APBN terus membengkak karena berbagai faktor.
"Dengan segitu defisit masih agak besar," kata Bambang di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Senin malam (22/9/2014)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita nggak tahu kurs masih ada di batas itu atau nggak. ICP (harga minyak Indonesia) juga begitu, masih ada risiko berubah," paparnya.
Sehingga perlu adanya kebijakan yang strategis dan memberikan dampak signifikan, khususnya pada BBM. Kebijakan tersebut salah satunya dengan menaikan harga BBM.
"Jadi perlu ada kebijakan yang signifikan," tegasnya.
Menurutnya bila tak ada upaya mengurangi subsidi BBM dengan menaikkan harga BBM, maka kondisi tahun depan tidak akan jauh berbeda dibandingkan tahun ini. Defisit anggaran terancam, sementara kuota BBM sebesar 46 juta kiloliter tersebut sulit tak bisa terlampaui.
"Ya memang belum ada perubahan apa-apa kan," tukasnya.
(mkl/hen)











































