Demikian dikemukakan Menteri Keuangan Chatib Basri di acara Seminar LPS bertema 'Befriending with The Boom Bust Cycle' di Hotel Ritz Carlton Pacifik Place, Jakarta, Selasa (23/9/2014).
"Saya rasa emerging market sudah harus bersiap untuk hadapi kenaikan Fed Rate. Akan ada capital inflow yang berkurang dan selanjutnya capital outflow ke Amerika dan dolar AS akan menguat. Kita akan menghadapi masalah di financial sector," papar Chatib.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tingginya impor BBM, lanjut Chatib, juga membuat neraca perdagangan dan transaksi berjalan Indonesia mengalami defisit. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia periode Januari-Juli 2014 defisit US$ 1,02 miliar. Sementara defisit transaksi berjalan pada kuartal II-2014 adalah US$ 9,1 miliar atau 4,27% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
"Agar bisa surplus, subsidi harus dikurangi. Saya tahu ini tidak mudah, tapi ini harus dilakukan untuk memperlebar ruang fiskal," tegas Chatib.
Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara-Perubahan (APBN-P) 2014, tambah Chatib, sudah ada dana untuk program kompensasi akibat kenaikan harga BBM sebesar Rp 5 triliun.
"Saya sudah sediakan alokasi agar bisa pemerintah menaikkan harga BBM. Agar memberi ruang fiskal yang berlebih," ucapnya.
Selain kenaikan harga BBM, Chatib juga menyebutkan bahwa perbankan perlu bersiap menghadapi dampak kenaikan bunga di AS. Caranya adalah dengan menjaga kesehatan industri perbankan.
"Global equity di sektor keuangan sewaktu-waktu bisa berpindah posisi. Kita lihat 2008 itu krisis, NPL tinggi, bank kolaps, dan itu membahayakan bank-bank kecil. Makanya likuiditas diperketat. Masalah bank saat itu adalah kesehatan bank. Yang diperlukan saat itu adalah pengetatan likuiditas," jelasnya.
(drk/hds)











































