Harga BBM Naik, RI Bakal Semakin Menarik Buat Investor

Harga BBM Naik, RI Bakal Semakin Menarik Buat Investor

- detikFinance
Kamis, 25 Sep 2014 12:39 WIB
Harga BBM Naik, RI Bakal Semakin Menarik Buat Investor
Jakarta - Pemerintahan presiden dan wakil presiden terpilih Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) dikabarkan akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dalam waktu dekat. Edimon Ginting, Deputy Country Director Bank Pembangunan Asia (ADB) Indonesia menilai kebijakan ini akan berdampak positif dalam jangka panjang.

Kenaikan harga BBM, menurut Edimon, dalam jangka pendek memang menyebabkan lonjakan harga barang dan jasa secara keseluruhan. Dia menyebutkan kenaikan harga 30-50% akan menyebabkan inflasi tahun depan bisa nyaris menyentuh 7%.

"Inflasi setelah memperhitungkan kenaikan BBM itu jadi 6,9%," ungkapnya dalam paparan ekonomi 2015 di Hotel Intercontinental, Jakarta, Kamis (25/9/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dampak akibat kenaikan harga BBM bersubsidi, tambah Edimon, hanya akan berlangsung paling lama setahun. Setelah itu, harga akan kembali stabil.

Menurut Edimon, dalam jangka panjang kebijakan ini akan berdampak positif. Pemerintah akan memiliki dana untuk membangun berbagai infrastruktur seperti pembangkit listrik, jalan, irigasi, pelabuhan, bandara, dan sebagainya.

"Infrastruktur yang masih kurang akan bisa dibangun dari anggaran tersebut. Khususnya infrastruktur dasar," imbuhnya.

Ketika infrastruktur sudah memadai, lanjut Edimon, Indonesia akan semakin menarik di mata investor. Investasi yang masuk kemudian akan menciptakan lapangan kerja.

"Bagi investor, infrastruktur adalah masalah untuk Indonesia. Bila kemudian masalah itu dikurangi, maka investasi akan naik. Infrastruktur itu punya multiplier effect ke depan. Ia tetap mendukung pertumbuhan ekonomi setelah itu dibangun karena akses ekonomi jadi lancar," terang Edimon.

Belanja negara, demikian Edimon, memang harus diarahkan untuk kepentingan jangka panjang dan bisa menggerakkan perekonomian. Subsidi yang habis sekali pakai tidaklah mencerminkan kebutuhan jangka panjang.

"Harus dilihat dalam jangka panjang. Kalau cuma subsidi, dipakai sekarang langsung habis. Tidak ada keberlanjutan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," tegasnya.

(mkl/hds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads