Sejak Juni 2013 lalu PT Pertamina (Persero) dan PT INTI (Persero) memasang alat pengendali BBM subsidi atau RFID di kendaraan pribadi masyarakat. Pada waktu itu, targetnya Juli 2014 seluruh kendaraan di Indonesia sudah terpasangi RFID.
Namun saat ini, program dengan nama Sistem Monitoring dan Pengendalian Bahan Bakar Minyak (SMPBBM) sudah hampir tak terdengar lagi.
Padahal program ini akhir tahun 2013 sempat booming dan membuat masyarakat harus antre panjang berjam-jam hanya untuk memasang RFID di tangki mobil kendaraannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walau tidak tidak banyak posko yang dibuka, pihaknya juga menerapkan sistem online untuk pemasangan RFID. Cukup mengikuti 2 langkah pengisian yang ada di www.smpbbm.com, langkah pertama mencakup pengisian data pendaftar dan data kendaraan berikut foto STNK. Langkah kedua mencakup pengisian data kendaraan sesuai yang tertera di STNK serta tempat dan waktu pemasangan RFID.
"Yang jelas program ini masih terus jalan," katanya.
Ia mengakui, program ini masih terkendala masalah kontrak dengan PT Pertamina, di mana pihaknya ingin ada perubahan angka pembayaran pengembalian investasi dari setiap BBM yang disalurkan dalam sistem RFID tersebut yang awalnya Rp 18/liter.
"Kontrak ini sangat rumit, apalagi di program ini baik INTI maupun Pertamina sama-sama belum berpengalaman, banyak hal-hal yang sangat detail di kontrak yang harus dibahas," jelasnya.
"Amandemen kontrak ini yang sampai saat ini belum selesai. Kedua belah pihak tetap berkomitmen mengsukseskan program RIFD atau SMPBBM ini, apalagi pemasangan RFID sudah menyebar ke beberapa kota," tutupnya.
Seperti diketahui, ditargetkan RFID terpasang sebanyak 100 juta unit kendaraan dan 92.000 nozel SBPU diseluruh Indonesia. Kontrak keduanya akan berlangsung selama 5 tahun.
(rrd/hen)











































