Ini Hitung-hitungan Penghematan Anggaran Bila Jokowi Naikkan Harga BBM

Ini Hitung-hitungan Penghematan Anggaran Bila Jokowi Naikkan Harga BBM

- detikFinance
Senin, 29 Sep 2014 13:26 WIB
Ini Hitung-hitungan Penghematan Anggaran Bila Jokowi Naikkan Harga BBM
Jakarta - Sinyal kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi semakin kuat. Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) dan Wakilnya Jusuf Kalla (JK) telah memberikan sinyal kuat. Berapa anggaran yang bisa dihemat bila harga BBM naik?

Dalam kajian Kementerian Pemberdayaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Pembangunan Nasional (Bappenas), ada ratusan triliun rupiah anggaran yang bisa dihemat. Tidak hanya untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015, tapi juga tahun-tahun selanjutnya.

Sidqy LP Suyitno, Direktur Keuangan Negara dan Analisa Moneter Kementerian PPN/Bappenas menyebutkan, bila harga BBM subsidi naik Rp 2.000/liter, maka anggaran yang bisa dihemat Rp 100 triliun per tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bila naik Rp 3.000/liter, maka anggaran yang bisa dihemat Rp 150 triliun," jelas Sidqy kepada detikFinance, Senin (29/9/2014).

Namun, Sidqy meragukan kenaikan harga BBM subsidi sekaligus akan terealisasi. Paling mungkin dilakukan bertahap, dari akhir 2014 hingga 2015 nanti. Sampai akhirnya subsidi hanya sedikit tersisa sesuai dengan amanah undang-undang (UU) terkait kewajiban negara terhadap warga.

"Masalah BBM subsidi itu sudah jadi kanker, jadi nggak segampang itu. Paling bertahap, sekarang dan tahun depan," jelasnya.

Idealnya, kenaikan harga BBM subsidi dilakukan setiap tahun sebesar Rp 1.000 per liter. Sehingga beban kejut yang dirasakan masyarakat tidak terlalu berat. Inflasi juga dapat dijaga dengan lebih baik.

"Kita kan usulkan Rp 1.000 per tahun, tiap tahun naik Rp 1.000," kata Sidqy.

Usul ini juga pernah disampaikan kepada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sejak 2005 silam. Akan tetapi tidak berjalan sepenuhnya. Kenaikan terjadi tapi benar-benar dalam situasi yang sangat mendesak.

"Itu sudah dari zaman Pak Boediono (Wapres), tapi nggak jalan," tukasnya.

(mkl/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads