Melihat kondisi ini Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM berencana mengeluarkan instruksi kepada perusahaan-perusahaan tambang batu bara untuk menahan produksinya. Hal ini dilakukan untuk mendongkrak harga batu bara yang sampai saat ini tengah lesu, dan mengerem prosuksi batubara di pasar.
"Saya kira harga ini belum termasuk yang terendah, saya yakin akan naik. Tapi kalau begini terus, saya akan rapat di tingkat Ditjen Kementerian ESDM untuk bagaimana kurangi produksi batu bara," kata Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM R. Sukhyar, dalam acara IHS Media Dialogue Session on Indonesiaβs Coal Sector, di AXA Tower, Jakarta, Selasa (30/9/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski ada rencana pengurangan, pemerintah mengalami sedikit dilema. Parlemen justru mendorong agar angka produksi khususnya ekspor digenjot sehingga bisa menambah pendapatan negara.
"Indonesia harus mengurangi ekspor. Itu sedikit agak tidak mungkin karena DPR ingin menaikkan ekspor batu bara untuk naikkan pendapatan," jelasnya.
Tahun ini, pemerintah mematok produksi batu bara pada posisi 425 juta ton. "Enggak boleh lebih. Kalau lebih ngaruh ke harga karena over supply," sebutnya.
Namun Sukhyar menyakini, harga batubara akan kembali pada posisi normal atau menggairahkan pada akhir tahun 2014, meskipun kenaikan nilainya tidak terlalu besar. Paling tidak harga acuan bisa melewati level US$ 70 per ton.
"Perhitungan harga batubara saya kira akhir tahun naik. Sekarang kan US$ 68-US$ 69 per ton. Di akhir tahun, bisa di atas US$ 70 per ton," sebutnya.
(feb/dnl)











































