Balada Kenaikan Harga BBM Rp 3.000/Liter, Jadi atau Tidak? (2)

Balada Kenaikan Harga BBM Rp 3.000/Liter, Jadi atau Tidak? (2)

- detikFinance
Rabu, 01 Okt 2014 11:41 WIB
Balada Kenaikan Harga BBM Rp 3.000/Liter, Jadi atau Tidak? (2)
Jakarta - Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) diklaim sudah memutuskan untuk menaikkan harga BBM subsidi Rp 3.000/liter pada November 2014.

Namun, belum sehari berselang, klaim tersebut dibantah sendiri oleh Presiden Terpilih Jokowi. Sebenarnya jadi atau tidak harga BBM naik?

detikFinance, merangkum balada kebijakan BBM subsidi, Rabu (1/10/2014).




Jokowi Diwarisi Kas Negara yang Defisit US$ 7,2 miliar

Presiden terpilih Joko Widodo atau yang dikenal dengan panggilan Jokowi berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi Rp 3.000 per liter pada November 2014. Apa alasan Jokowi akan menerapkan kebijakan yang tidak populis ini?

"Sudah diputuskan oleh Pak Jokowi, kenaikan harga BBM bersubsidi Rp 3.000 per liter. November dimungkinkan sudah dinaikkan," kata Luhut Binsar Panjaitan, Penasihat Senior Tim Transisi Jokowi-JK, di gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jakarta, Selasa (30/9/2014).

Menurut Luhut, ada alasan kuat di balik kenaikan harga BBM pada November mendatang. Dia menilai kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sudah sangat berat.

"Ada kekhawatiran defisit cash flow tidak bisa dihindari," ujarnya.

Begitu Jokowi mulai menjabat sebagai presiden pada 20 Oktober 2014, Luhut menyebutkan sudah dihadapkan pada kondisi APBN yang 'berdarah-darah'. Jokowi bisa saja tidak punya cukup dana untuk mengelola negara.

"Saat masuk kantor nanti, Presiden Jokowi dihadapkan pada defisit anggaran mencapai Rp 27 triliun dan carry over BBM subsidi Rp 46 triliun. Total kas negara yang kosong mencapai US$ 7,2 miliar," jelas Luhut.

Dengan kenaikan harga BBM, Luhut menyebutkan negara bisa menghemat anggaran ratusan triliun. Kenaikan harga BBM bersubsidi sebesar Rp 3.000 per liter November 2014 bisa menghemat US$ 13-14 miliar atau bisa lebih dari Rp 150 triliun. Jika ini konsisten dilakukan, maka penghematannya akan terus bertambah.

"November harga BBM naik Rp 3.000 per liter, tahun depan pemerintah bisa hemat US$ 13 miliar-US$ 14 miliar. Tahun depannya lagi bisa hemat US$ 20 miliar, tahun depannya lagi hemat US$ 26 miliar," jelas Luhut.

Jokowi Siap Tidak Populer di Mata Rakyat

Pemerintahan baru pimpinan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) berencana menaikkan harga BBM subsidi Rp 3.000/liter pada November 2014 nanti. Jokowi siap atas semua risiko dalam menjalankan kebijakan ini.

Demikian disampaikan oleh Penasihat Senior Tim Transisi Jokowi-JK, Luhut Binsar Panjaitan dalam sambutannya di acara Peluncuran Buku Outlook Energi Indonesia 2014 di kantor BPPT, Jakarta, Selasa (30/9/2014).

"Pak Jokowi sudah siap akan risiko yang dihadapi. Beliau siap untuk tidak populer," tegas Luhut.

"Sudah diputuskan oleh Pak Jokowi, kenaikan harga BBM subsidi Rp 3.000 per liter, November dimungkinkan sudah dinaikkan," imbuh Luhut.

Menurut Luhut, lewat kenaikan harga BBM subsidi ini, pemerintah baru nanti bisa mendapatkan penghematan dana, dan dialihkan untuk sektor lain yang lebih mengena ke sasaran, yaitu masyarakat ekonomi lemah.

"Dengan kenaikan harga BBM ini, dilakukan pengalihan dana penghematan daripada habis dibakar, ke sektor lain seperti kesehatan dan pendidikan masyarakat berekonomi lemah," jelas Luhut.

"Sehingga rakyat bawah menikmati pemotongan subsidi BBM ini," tutup Luhut.

Harga BBM Naik, Dolar Keok

Kenaikan harga BBM subsidi Rp 3.000/liter yang rencananya akan dilakukan pemerintahan Jokowi-JK pada November 2014, akan membuat rupiah perkasa.

Penasihat Tim Transisi Jokowi-JK, Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, rencana Jokowi-JK menaikkan harga BBM subsidi diapresiasi pelaku pasar saham dan keuangan.

"Semua market mengapresiasi keputusan tersebut (kenaikan harga BBM) merupakan keputusan yang tepat," tutur Luhut usai memberi sambutan di acara Peluncuran Buku Outlook Energi Indonesia 2014 di kantor BPPT, Jakarta, Selasa (30/9/2014).

Kemudian, ujar Luhut, kenaikan harga BBM subsidi ini bisa meningkatkan mengurangi defisit transaksi berjalan, dan ujungnya menguatkan nilai tukar rupiah.

"Kenaikan harga BBM akan meningkatkan current account (transaksi berjalan) kita. Akan menguatkan rupiah kita jadi lebih kuat, bertahap di bawah Rp 11.000/US$. Kalau pajak kita kuat kan lagi rupiah bisa di bawah Rp 10.000/US$," jelas Luhut.

Jokowi Siapkan BLT Untuk 27 Juta Rakyat Miskin

Pemerintahan baru pimpinan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) berencana menaikkan harga BBM subsidi Rp 3.000/liter di November 2014. Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) pun disiapkan.

Memang dalam APBN-P 2014 telah disiapkan dana BLT dengan besaran Rp 5 triliun. Uang ini bisa digunakan untuk memberikan BLT ke orang miskin selama 2 bulan.

"Pasti akan ada (BLT), bentuknya sedang diatur. Yang dapat 27 juta orang. Bentuknya sedang disusun oleh tim. Sekarang mereka sedang sosialisasikan dengan baik," jelas Penasihat Senior Tim Transisi Jokowi-JK, Luhut Binsar Panjaitan usai memberi sambutan di acara Peluncuran Buku Outlook Energi Indonesia 2014 di kantor BPPT, Jakarta, Selasa (30/9/2014).

Luhut mengatakan, Jumat pekan lalu, Jokowi dan JK sudah memutuskan kenaikan harga BBM subsidi Rp 3.000/liter. "Mungkin (kenaikannya) pada November nanti," ujar Luhut.

Kenaikan harga BBM subsidi ini perlu dilakukan, karena kondisi keuangan pemerintah sedang ketat dan defisit.

Soal BLT, Luhut mengatakan basis data orang miskin yang menerima dana ini sudah ada. Sehingga begitu harga BBM subsidi dinaikkan, BLT bisa langsung dicairkan. Namun Luhut tidak mengatakan berapa nominal BLT yang akan diberikan.

Jokowi Belum Pastikan Kenaikan Harga BBM Rp 3.000/liter

Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) mengaku belum memastikan berapa dan kapan kenaikan harga BBM subsidi dilakukan. Saat ini masih dikaji soal kenaikan harga BBM subsidi tersebut.

"Siapa bilang (harga BBM subsidi naik)? Masih opsi-opsi. Ada (naik) Rp 500, Rp 1.000, Rp 1.500, Rp 2.000, Rp 2.500, Rp 3.000. Itu opsi-opsi," kata Jokowi di Balai Kota, Jakarta, Selasa (30/9/2014).

Sebelumnya, Penasihat Senior Tim Transisi Jokowi-JK, Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, Jokowi sudah memastikan harga BBM subsidi naik Rp 3.000/liter pada November 2014 nanti.

"Siapa yang memastikan (BBM naik November)? Baru dalam proses hitung-hitunganan. Berapa kenaikan belum, kapannya juga belum," jelas Jokowi.

Jadi pernyataan Pak Luhut tidak benar Pak? "Dilantik saja belum," jelas Jokowi.
Halaman 2 dari 6
(rrd/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads