"Semakin cepat pemerintah buat keputusan soal BBM, makin baik untuk kepastian berapa inflasi kita ke depannya. Jadi kita bisa set suku bunga," kata Mirza Adityaswara, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), dalam kala ditemui di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Senin (13/10/2014).
Besaran kenaikan harga BBM, lanjut Mirza, sebaiknya yang berdampak maksimal terhadap penghematan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan defisit transaksi berjalan. Jika kenaikannya tidak seberapa, maka dikhawatirkan dampak positifnya juga minimal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan harga BBM, tambah Mirza, hanya satu kebijakan yang harus ditempuh Jokowi-JK. Di luar itu, masih ada sederet kebijakan struktural yang harus dilakukan untuk menjaga kestabilan ekonomi Indonesia.
Oleh karena itu, Mirza berharap pemerintahan mendatang memiliki tim ekonomi di kabinet yang mumpuni. "Tim kabinet harus segera membuat paket kebijakan reformasi struktural. Misalnya perbaikan sektor riil, ketahanan pangan, ketahanan energi, infrastruktur, kesehatan, dan sebagainya," tuturnya.
Ketika sektor riil dibenahi, menurut Mirza, BI tidak akan bekerja sendiri kala terjadi guncangan. "Kalau tidak ada reformasi struktural, maka defense kita hanya di moneter. Akhirnya BI yang mempertahankan. Padahal instrumen BI terbatas," katanya.
(hds/ang)











































