Sopir Mabuk Jadi Penyebab Tewasnya Bos Total di Jet Pribadi

Sopir Mabuk Jadi Penyebab Tewasnya Bos Total di Jet Pribadi

- detikFinance
Selasa, 21 Okt 2014 14:12 WIB
Sopir Mabuk Jadi Penyebab Tewasnya Bos Total di Jet Pribadi
Foto: Christophe de Margerie (Reuters)
Moscow -

Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak asal Prancis, Total, yaitu Christophe de Margerie, tewas saat jet pribadi yang membawanya menubruk mobil penyapu salju. Ternyata, sopir kendaraan penyapu salju itu sedang mabuk.

Hal ini terungkap dari hasil investigasi dari sejumah penyidik di Rusia.

"Telah diketahui, sopir kendaraan penyapu salju dalam status mabuk," demikian pernyataan unit investigasi Rusia dilansir dari AFP, Selasa (21/10/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ini menambahkan teori yang berkembang sebelumnya, soal adanya human error dari pilot pesawat tersebut, yang menimbulkan kecelakaan mematikan itu.

Jet pribadi Dassault Falcon yang membawa de Margerie tewas kecelakaan di bandara internasional Vnukovo, Moscow.

Menurut keterangan pihak bandara, kecelakaan ini terjadi Senin, beberapa menit sebelum tengah malam waktu Moscow. Jet pribadi itu rencananya akan membawa de Margerie terbang ke Paris.

"Total mengonfirmasi dengan duka yang dalam, bahwa Chairman dan CEO Christophe de Margerie meninggal pukul 10.00 malam (waktu Paris) tanggal 20 Oktober dalam sebuah kecelakaan pesawat pribadi di Bandara Vnukovo Moscow, karena tubrukan dengan mesin penyapu salju," demikian pernyataan Total.

Selain de Margerie, Total mengatakan, 3 kru pesawat juga meninggal.

De Margerie, berumur 63, datang ke Moscow untuk mengadakan rapat bersama pemerintah Rusia terkait investasi asing. Rapat dilakukan di Gorki, dekat Moscow kemarin. Pria ini merupakan salah satu figur penting di dunia perminyakan global.

Lulus dari sekolah bisnis Ecole Superieure de Commerce di Paris, de Margerie menjadi CEO Total pada Februari 2007, dan merangkap menjadi Chairman pada Mei 2010.

Di dunia, Total merupakan perusahaan migas dengan pangsa pasar nomor 4 terbesar di dunia, setelah Exxon, Shell, dan Chevron.

(dnl/hds)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads