Hal tersebut dikemukakan pengamat ekonomi Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono kepada detikFinance, Senin (27/20/2014). Menurutnya, para menteri di Kabinet Kerja harus segera berkoordinasi untuk merumuskan kebijakan kenaikan harga BBM.
"Tugas pertama adalah segera berkoordinasi, kapan harga BBM bersubsidi harus dinaikkan," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Meski harga minyak dunia sekarang turun di bawah US$ 85 per barrel, tetapi kita tidak tahu seberapa lama ini berlangsung," sebutnya.
Tony berpendapat, harga BBM bersubsidi bisa naik Rp 2.000-3.000 per liter. Sementara untuk waktu, dia menyarankan sebaiknya paling lambat pertengahan Desember.
"Waktu terbaik adalah November. Atau selambat-lambatnya pertengahan Desember," katanya.
Tugas untuk mengkordinasikan menteri-menteri, lanjut Tony, adalah kewajiban Sofyan Djalil selaku Menko Perekonomian. Menurutnya, Sofyan mampu melakukan hal tersebut.
"Sofyan Djalil tidak memiliki background ekonomi makro yang kuat. Namun rasanya dia bisa bekerja keras untuk mengkoordinasikan," tukasnya.
(mkl/hds)











































