Mohammad Ikhsan, Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia (UI), menyebutkan kebijakan ini memang sangat dibutuhkan. Namun penting pula memperhatikan perkembangan politik.
Jika situasi politik mendukung, pemerintah bisa menaikkan harga BBM Rp 2.000/liter dan kemudian menaikkan lagi pada tahun depan. Kenaikan harga BBM 2 kali dalam waktu yang tidak terlalu lama aman dilakukan ketika kondisi politik kondusif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun jika situasi politik kurang bagus, lanjut Ikhsan, sebaiknya kenaikan harga BBM cukup sekali saja. Besarannya bisa langsung Rp 3.000/liter.
"Jadi memang harus ada komitmen politisi juga, paling tidak dalam koalisi pemerintah. Kalau tidak, ya hajar saja langsung Rp 3.000/liter," tegasnya.
Menurutnya, pemerintahan Jokowi juga harus belajar dari pemerintahan sebelumnya. Di mana sudah merencanakan kenaikan harga secara bertahap selama 5 tahun hingga semakin dekat dengan harga keekonomian.
"Dulu juga mau gradual. Tapi kan tidak terealisasi," ujarnya.
Untuk dampak terhadap inflasi, dari berbagai kajian sudah diketahui, bahwa inflasi yang dirasakan berat hanya jangka pendek. Sedangkan jangka panjang diproyeksikan lebih stabil.
"Kalau dampak inflasi, hanya jangka pendek. Tapi kan ini lebih banyak soal pengambilan kebijakannya. Berapa yang seharusnya," kata Ikhsan.
(mkl/hds)











































