Sebelumnya, sempat beredar kabar Jokowi akan menaikkan harga BBM sebesar Rp 3.000/liter. Namun ada suara yang menyarankan sebaiknya kenaikan harga cukup Rp 2.000/liter agar beban masyarakat dan risiko politik tidak terlalu besar.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin menyebutkan, sebaiknya kenaikan harga BBM bersubsidi dilakukan sekaligus Rp 3.000/liter. Dengan begitu, pemerintah tidak perlu lagi menaikkan harga BBM tahun depan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menjelaskan, kebijakan menaikkan harga BBM sudah pasti akan berdampak pada inflasi. Namun hal ini hanya bersifat sementara. Dalam jangka menengah-panjang, kebijakan ini justru akan memperbaiki perekonomian Indonesia.
"Subsidi terlalu besar, pemerintah akan mengalihkan ke yang lebih produktif. Dalam jangka yang menengah akan memberikan dampak positif. Inflasi hanya sesaat saja," terangnya.
Suryamin menyebutkan, dampak langsung dari kenaikan harga BBM akan menyumbang inflasi sebesar 1,7%. Itu jika kenaikan dilakukan pada awal November 2014.
Sementara dampak tidak langsung, kata Suryamin, akan menambah angka inflasi 1-2%. Tapi dampaknya akan terjadi secara bertahap 6-7 bulan ke depan.
"Dampak tidak langsung ada transportasi naik, itu ada dampaknya 1-2%. Tapi tidak sekaligus, akan menyebar dalam 6-7 bulan. Kalau 6 bulan berarti 1/6-nya," jelas Suryamin.
(drk/hds)











































