Menteri ESDM Sebut Krisis Listrik Sudah di Depan Mata

Menteri ESDM Sebut Krisis Listrik Sudah di Depan Mata

- detikFinance
Selasa, 04 Nov 2014 17:36 WIB
Menteri ESDM Sebut Krisis Listrik Sudah di Depan Mata
Jakarta - Indonesia diperkirakan akan mengalami krisis listrik pada 2018. Jika tidak ada langkah dan berbagai upaya mempercepat pembangunan pembangkit listrik, maka krisis listrik akan benar-benar melanda negara ini.

"Kondisi sektor listrik kita belum ada yang baru. Tadi kita rapat dengan PLN dan Ditjen Listrik, keduanya memberikan paparan tentang situasi kita saat ini," ujar Menteri ESDM Sudirman Said ditemui di Kantor Ditjen Ketenagalistrikan, Selasa (4/11/2014).

Sudirman mengatakan, apabila kondisi sektor listrik Indonesia tidak segera dibenahi maka dalam beberapa tahun lagi akan terjadi krisis listrik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau tidak ada manage maka dalam beberapa tahun ke depan kita akan krisis listrik, dan sudah pernah di-declare oleh Dirjen Listrik Pak Jarman," ungkapnya.

Untuk dapat mengatasi masalah tersebut kata Sudirman tentunya harus banyak dibangun pembangkit listrik yang cukup, untuk menutupi selisih antara pertumbuhan konsumsi listrik.

"Yang jelas pertumbuhan konsumsi listrik harus diimbangi dengan pembangunan pembangkit listrik. Jadi kita mesti kerja keras, bagaimana mengisi gas itu. PLN kerja keras, ESDM kerja keras, regulasi dipikirkan, bahkan hari Sabtu nanti kami akan kumpul lagi bersama PLN, seharian untuk mendalami isu-isu tersebut. Tadi sudah lumayan tergambar," katanya.

"Hari Sabtu akan kumpul lagi untuk mendalami semua persoalan untuk dalam minggu depan ada rekomendasi untuk pemerintah baru seperti apa," tambahnya.

Ia mengakui, sektor kelistrikan memang masih banyak kendala yang menghambat sehingga tambahan pembangkit listrik menjadi lamban.

"Mulai dari masalah lahan, perizinan, kapasitas kontraktor kita juga, kemampuan keuangan dari penerima IPP sehingga sudah dapat izin tidak terbangun pembangkitnya, ini semua menjadi kendala. Memang real kapasitas dari pelaku bisnis listrik harus betul-betul ditinjau kembali, itu yang membuat banyak kontrak tidak berlanjut," tutupnya.

(rrd/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads