Kendala Proyek Listrik Panas Bumi: Rebutan Bor dengan Perusahaan Minyak

Kendala Proyek Listrik Panas Bumi: Rebutan Bor dengan Perusahaan Minyak

- detikFinance
Selasa, 04 Nov 2014 18:40 WIB
Kendala Proyek Listrik Panas Bumi: Rebutan Bor dengan Perusahaan Minyak
Ilustrasi Foto: Dok. detikFinance
Jakarta - Indonesia menghadapi ancaman krisis listrik dalam beberapa tahun ke depan. Potensi listrik dari energi terbarukan Indonesia sangat tinggi, namun minim pemanfaatannya.

Salah satunya potensi pembangkit listrik dari panas bumi (geothermal), di mana Indonesia dianugerahi cadangan panas bumi terbesar di dunia. Namun baru sekitar 4% yang termanfaatkan.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana mengungkapkan, penghambat proyek listrik energi baru tidak melulu soal izin atau birokrasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada hal yang lain yang di luar perkiraan orang, saat ini kita rebutan rig (alat bor) dengan perusahaan minyak, jumlah rig-nya terbatas, kita mau ngebor sumur panas bumi untuk dapat uap rig-nya nggak ada, dipakai buat ngebor minyak," ujar Rida ditemui di Kantor Dirjen Ketenagalistrikan, Kuningan, Selasa (4/11/2014).

Rida mengungkapkan, tidak hanya terbatasnya jumlah rig, Sumber Daya Manusia untuk sektor kelistrikan panas bumi juga sedikit sekali jumlahnya. Untuk mengebor sumur panas bumi tidak mudah perlu orang ahli, sementara SDM-nya banyak di industri Migas.

"SDM kita juga terbatas, di sektor Migas aja kekurangan SDM-nya," ucapnya.

Ia mengakui, bagai buah simalakama Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 juga sedikit banyak bisa menjadi jalan keluar bagi sektor kelistrikan Indonesia.

"Ya MEA nanti bisa jadi jalan keluar instan, orang ahli di sektor ini akan banyak masuk, alat-alat bor atau rig juga banyak masuk ke Indonesia, sehingga kita bisa ngebut tambah listrik dari energi baru terbarukan," tambahnya.

Tidak hanya itu saja, mesin turbine panas bumi juga saat ini jumlahnya sangat sedikit dan harus pesan dalam jangka waktu cukup lama.

"Di dunia itu yang teknologi mesin turbinenya paling bagus masih dari Jepang, ada 3 perusahaan, kalau di Indonesia belum ada, kita mau beli harus pesan lama. Makanya karena kita butuh banyak karena ini teknologi tinggi, kami berharap 3 perusahaan itu bisa buat pabriknya di Indonesia, tapi ini memerlukan kerjama antara pemerintah dengan pemerintah (g to g)," ungkapnya.

Pihaknya sendiri, menargetkan kapasitas listrik dari EBTKE bisa mencapai 10.741 megawatt pada 2019 mendatang.

"Target kita dari EBTKE 2014-2019 kapasitas listrik dari energi baru terbarukan mencapai 10.741 MW, sekarang masih kecil, kita mau geber semua, apalagi PLTbm (biomassa), PLTMH (minihidro) semakin diminati investor karena harganya yang menarik," tutupnya.

(rrd/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads