Salah satunya potensi pembangkit listrik dari panas bumi (geothermal), di mana Indonesia dianugerahi cadangan panas bumi terbesar di dunia. Namun baru sekitar 4% yang termanfaatkan.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana mengungkapkan, penghambat proyek listrik energi baru tidak melulu soal izin atau birokrasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rida mengungkapkan, tidak hanya terbatasnya jumlah rig, Sumber Daya Manusia untuk sektor kelistrikan panas bumi juga sedikit sekali jumlahnya. Untuk mengebor sumur panas bumi tidak mudah perlu orang ahli, sementara SDM-nya banyak di industri Migas.
"SDM kita juga terbatas, di sektor Migas aja kekurangan SDM-nya," ucapnya.
Ia mengakui, bagai buah simalakama Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 juga sedikit banyak bisa menjadi jalan keluar bagi sektor kelistrikan Indonesia.
"Ya MEA nanti bisa jadi jalan keluar instan, orang ahli di sektor ini akan banyak masuk, alat-alat bor atau rig juga banyak masuk ke Indonesia, sehingga kita bisa ngebut tambah listrik dari energi baru terbarukan," tambahnya.
Tidak hanya itu saja, mesin turbine panas bumi juga saat ini jumlahnya sangat sedikit dan harus pesan dalam jangka waktu cukup lama.
"Di dunia itu yang teknologi mesin turbinenya paling bagus masih dari Jepang, ada 3 perusahaan, kalau di Indonesia belum ada, kita mau beli harus pesan lama. Makanya karena kita butuh banyak karena ini teknologi tinggi, kami berharap 3 perusahaan itu bisa buat pabriknya di Indonesia, tapi ini memerlukan kerjama antara pemerintah dengan pemerintah (g to g)," ungkapnya.
Pihaknya sendiri, menargetkan kapasitas listrik dari EBTKE bisa mencapai 10.741 megawatt pada 2019 mendatang.
"Target kita dari EBTKE 2014-2019 kapasitas listrik dari energi baru terbarukan mencapai 10.741 MW, sekarang masih kecil, kita mau geber semua, apalagi PLTbm (biomassa), PLTMH (minihidro) semakin diminati investor karena harganya yang menarik," tutupnya.
(rrd/ang)











































