"Pikirkan Indonesia jangka menengah dan panjang. Turunnya (harga minyak) baru 1-2 minggu. Nggak tahu besok-besok lusa bagaimana. Kalau kita nggak antisipasi susah, tahu-tahu sudah masuk jurang," jelas Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan, Askolani, di kantornya, Jakarta, Selasa (4/11/2014).
Seperti diketahui, harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) pada Oktober 2014 adalah US$ 83,72 per barel, turun US$ 11,25 per barel, dibanding bulan sebelumnya US$ 94,97 per barel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekitar itulah Rp 1-2 triliun di bawah pagu 246,5 triliun," ungkap Askolani.
Proyeksinya rata-rata ICP sampai akhir tahun adalah sebesar US$ 102-US$ 104 per barel. Di bawah asumsi yang dipatok dalam APBN perubahan 2014, yaitu US$ 105/barel.
Ini dengan kondisi volume tetap terjaga sebesar 46 juta kiloliter dan nilai tukar rata-rata Rp 11.900 per US$. Di samping belum adanya pengambilan kebijakan kenaikan harga BBM subsidi.
"Karena kalau kebijakan disesuaikan, volume berubah, realisasi bisa berubah," sebutnya.
Namun, menurut Askolani proyeksi tersebut bisa berubah drastis. Karena pergerakan harga minyak dunia cukup fluktuatif. Masih ada kemungkinan harga minyak kembali melonjak.
"Baru dipantau seminggu dua minggu ini bisa lebih sedikit hemat," jelas Askolani.
(mkl/dnl)











































