Dia menjelaskan, sebelum harga BBM dinaikkan dan gaung-gaung kenaikan sudah terdengar, penjual bahan baku sudah terlebih dahulu menaikkan harga. Dia mencontohkan pengusaha aksesoris, perkakas, dan kayu sudah berlomba-lomba menaikkan harga produknya.
"Begitu BBM naik, harganya naik lagi. Jadi sudah 3-4 kali naik," kata Taufik ditemui di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Kamis (6/11/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menjelaskan, produsen yang mengekspor produknya sudah menandatangani kontrak dengan importir di negara lain. Harganya sudah didtetapkan dalam jangka waktu yang juga disepakati.
"Jadi serba salah," ujarnya.
Dia juga mengatakan, permasalahan pun belum selesai jika kontrak sudah habis. Dia mengatakan, jika harga produknya dinaikkan setelah kontrak habis, buyer atau pembeli belum tentu mau menerimanya.
"Begitu kita naikkan harga (setelah selesai kontrak), dia nggak mau beli. Lari ke Vietnam," katanya.
Namun, dia pun tidak mengatakan pihaknya setuju atau tidak setuju dengan rencana pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi. "Saya tidak mau komentar," tutupnya.
(zul/hds)











































